Melongok Bisnis Esek-esek di Bumi Bersujud

Posted: December 25, 2010 in Sosial
“Menggiurkan, Omsetnya Ratusan Juta Rupiah”

KAWASAN pelacuran Kapis di Tanah Bumbu Kalimantan Selatan memang melegenda. Selain sebagai lokalisasi tergolong tua di balik sensasi bursa seks tersebut, di kawasan itu juga tumbuh beragam aktivitas atau lapangan pekerjaan yang menjadi penopang hidup warga. Mulai jualan sayuran, makanan hingga jasa cuci pakaian.

Alunan suara musik dangdut yang diputar melalui Vidio Compact Disk (VCD) terdengar begitu nyaring dari salah satu wisma yang ada di kaki gunung Kukusan Desa Batu Ampar kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu.

Semakin malam, suara musik dan lagu-lagu dangdut tersebut bertambah keras. Seiring makin ramainya pengunjung kawasan tersebut, yang ditandai dengan hilir mudiknya kendaraan bermotor maupun beragam mobil mewah yang harganya ratusan juta rupiah.

Ya, geliat kehidupan lokalisasi bernama Kapis yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kota Batulicin ibukota Tanah Bumbu itu telah mulai. Ratusan cewek beragam usia, yang tubuhnya dibalut dengan pakaian super ketat dan minim, terlihat mejeng di teras rumah-rumah bedakan tempat mereka mangkal untuk menjaring “mangsa”.

Suasana pun bertambah eksotik dan mendebarkan jantung pria. Lekuk tubuh para cewek yang duduk berjajar di kursi kayu itu, disinari lampu ukuran 10 watt yang menggantung di teras sebagai penerang rumah bedakan tempat mereka mencari pelanggan dan memberikan pelayanan kepuasan seks.

Tak heran, para pengunjung yang lewat baik berjalan kaki maupun naik kendaraan selalui jelalatan. Sorot matanya terus memelototi para cewek yang berjajar di teras seperti barang dagangan itu. Ditambah godaan para cewek yang sedang menunggu pelanggan maupun mencari para pria hidung belang yang membutuhkan pelayanan seksual.

“Silahkan dipilih bang. Sayurnya macam-macam lho, pingin yang muda atau yang agak tua yang lebih pengalaman. Dijamin puas menikmati dan tidak mahal,” goda para cewek  kepada setiap orang yang melintas di depan bedakannya.

Para pengunjung pun bebas singgah di tempat tersebut sesuai selera. Termasuk ingin menikmati “jajan” yang dijual para cewek tersebut harganya sesuai dengan nego masing-masing.

Selain itu, pengunjung juga bebas memilih sesuai seleranya masing-maisng. Karena di wilayah itu atau yang kerap disebut Kapis Baru ada 400 cewek yang tinggal di 64 wisma yang dilengkapi dengan “kamar praktik” yang dikelola 38 mucikari.

Begitu juga dengan di Kapis Lama yang jumlahnya mencapai 200 orang yang dikelola 27 mucikari yang siap memberikan pelayanan kepada pengunjung. Termasuk gaya-gaya yang diberikan juga beragam.

“Ingin gaya apa, semua ada disini kok bang. Pokoknya rugi deh kalau tidak mencobanya,” godanya penuh akrab.

Umumnya tidak mahal, yakni cukup mengeluarkan uang Rp 100 ribu sekali tanding. Dan uang tersebut sudah termasuk ongkos kamar ukuran 2×2 meter yang dijadikan lapangan pertandingan pelampiasan nafsu tersebut.

Meskipun kecil, kamar tersebut cukup rapi dan didesain apik. Dinding-dindingnya dibalut kain korden warna beragam dan diberi pengharum yang terus menyeruak hidung.

Selain itu, dilengkapi ranjang ukuran 1,5×2 meter dengan dua bantal dan guling serta selimut. Juga dilengkapi cermin dan kamar mandi yang terletak di sebelah kamar tersebut meskipun penampung airnya terbuat dari ember plastik dan sangat sederhana.

Sedangkan ongkos wisma tersebut juga murah. Sekali kencan menggunakan kamar cukup membayar Rp 100 ribu. Dan uang tersebut sudah termasuk ongkos kamar dan biaya pelayanan.

Bahkan jika ingin bermalam, hanya dikenai biaya sebesar Rp 300 ribu yang sudah termasuk biaya kencan dan sewa kamar. Pengunjung juga masih dimanjakan pemilik wisma, dengan menu pagi mie goreng lengkap dengan telur dan susu hangat.

Seiring berjalanya roda bisnis esek-esek tersebut, kehidupan warga juga berjalan. Semua kendaraan yang masuk di kawasan tersebut, dipungut sebesar Rp 5 ribu sekali kunjung sebagai uang keamanan.

Karena nomor kendaraan dicatat, berikut waktu mereka berkunjung di lokalisasi tersebut. Uang tersebut, untuk membantu perbaikan jalan menuju kawasan tersebut yang masih berupa tanah liat saja.

Selain itu, juga dimanfaatkan warga yang berprofesi sebagai pedagang makanan maupun sayur-sayuran. Setiap pagi, mereka bertandang ke kawasan tersebut untuk menjual sayur-sayuran maupun hasil kebun lainnya seperti lombok, kacang panjang, terong dan lain-lain.

Mereka tidak perlu lagi membawa ke pasar Niaga Batulicin yang jaraknyasekitar 10 kilometer dari kawasan tersebut. Namun, para pedagang cukup jalan kaki maupun membawa gerobak keliling di lokalisasi tersebut yang luasnya hanya 1,5 hektar itu.

“Saya sudah dua tahun jualan seperti ini disini. Hasilnya lumayan, setiap hari minimal Rp 100 ribu dan tidak perlu lagi dijual ke kota ,” kata salah satu pedagang sayur.

Hal yang sama diakui Heri bukan nama sebenarnya. Dia setiap hari menjual pulsa seluler beragam operator. Hasilnya juga cukup menjanjikan. Setiap malam, dia keliling dengan jalan kaki dan masuk dari wisma satu ke wisma lainnya untuk menjajakan aneka ragam vaucer.

Pria yang tengah menanti anak pertamanya itu, mengaku setiap pulang bisa mengantongi uang berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1.000.000, hasil penjualan pulsa tersebut. Dan pekerjaan itu sudah ditekuninya selama 1,5 tahun.

“Disini para PSK punya HP semua mas. Mungkin mereka malas keluar karena jauh dari kota . Cukup beli pulsa dnegan saya dan setiap hari saya keliling disini,” terangnya.

Belum lagi, jasa cuci pakaian manual atau tidak menggunakan mesin yang dilakukan beberapa ibu rumah tangga di sekitar lokalisasi tersebut. Ternyata hailnya cukup besar. Satu potong baju, dikenai ongkos Rp 1.500. Celana panjang jins Rp 2.500 dan kaos cukup Rp 1.000 saja.

Artinya, dari perkembangan lokalisasi Kapis tersebut memiliki dampak yang sangat lengkap. Utamanya perekonomian masyarakat juga berjalan dengan memanfaatkan keramaian para pengunjung di istana pelampiasan birahi tersebut.

150 juta per Malam

Lokalisasi Kapis Lama RT16 dan Kapis Baru RT17 yang berada di Batu Ampar Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu atai sekitar 10 kilometer dari Kota Batulicin berada di atas lahan seluas 1 hektar untuk Kapis Lama dan 1,5 hektar untuk Kapis Baru.

Di Kapis Lama dihuni sekitar 200 cewek berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) yang dikelola 27 mucikari. Meeka berada di 37 wisma yang berdiri di areal tersebut yang dilengkapi dengan kamar-kamar praktek mereka.

Sedangkan Kapis Baru menggunakan lahan seluas 1,5 hektar, ada 400 PSK yang tinggal di 64 wisma yang berada di kaki gunung Kukusan tersebut. Para penjaja seks komersial itu, dikelola 37 mucikari yang siap memberikan perlindungan.

Masing-masing mucikari, memiliki jumlah pasukan beragam. Berkisar antara 4 hingga 10 orang yang siap memberikan pelayanan kepada setiap pria hidung belang yang menyambangi ke tempat “prakteknya”.

Biaya pelayanan relatif sama. Untuk sekali kencan, setiap pria hidung belang membayar sebesar Rp 100 ribu. Uang tersebut sudah termasuk sewa kamar dan biaya pelayanan bagi PSK.

Dalam pengakuannya, Nely (24) –bukan nama sebenarnya, setiap harinya dia biasa melayani sekitar 7 sampai 10 pria dengan penghasilan sebesar Rp 700 ribu smapai Rp 1 juta. Uang tersebut, belum termasuk tips yang diberikan suka rela oleh pelanggan atas pelayanan yang cukup memuaskan.

Belum lagi, jika memberikan pelayanan kepada para orang-orang asing yang bekerja di tambang. Uang ucapan terima kasih justru lebih banyak dibanding tarif pelayana itu sendiri.

Sehingga jika diambil rata-rata penghasilan para cewek tersebut di lokasi tersebut mencapai Rp 150 juta per malam. Belum lagi, jika ada pelanggan yang nginap di wisma tersebut yang harus membayar ongkos sebesar Rp 300 ribu. Sehingga akan menambah penghasilan di lokalisasi tersebut.

Peredaran uang tersebut, belum termasuk penjualan aneka minuman, rokok maupun wadai di warung-warung di setiap wisma. Harganya lebih mahal dari harga di pasaran. Contoh, air mineral kemasan 750 mililiter yang di kios-kios harganya Rp 2 ribu, di lokalisasi dijual Rp 5 ribu.

Termasuk harga bir hitam yang biasanya hanya Rp 25 ribu, dijual kepada pengunjung wisma sebesar Rp 40 ribu per botol. Dan biasanya satu pengunjung bisa menenggak antara 1 sampai 2 botol. Belum lagi harga penjualan rokok, yang mayoritas pengunjung adalah penghisap rokok aktif.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s