Sejarah Lokalisasi Kapis di Tanah Bumbu

Posted: December 25, 2010 in Sosial

NAMA lokalisasi Kapis sangat terkenal di berbagai daerah, terlebih di kalangan dunia prostitusi di negeri ini. Menyebut nama itu, mayoritas orang khususnya para pelancong syahwat langsung mengenalnya. Karena kawasan itu merupakan arena penyaluran birahi yang tergolong legendaris dan tertua di Kalimantan Selatan.

Sayangnya lokalisasi tersebut tidak seindah dan tidak sebanding dengan kesohoran namanya. Lokalisasi yang terletak di tengah hutan karet di kaki gunung Kukusan di Desa Batu Ampar kecamatan Simpang Empat atau sekitar 10 kilometer dari kota Batulicin ibu kota Tanah Bumbu.

Sekilas tidak terlihat, jika di dalam hutan karet tersebut ada pemukiman warga yang menjadi areal lokalisasi Kapis tersebut. Selain sepi penduduk, untuk bisa masuk ke daerah itu harus melintasi hutan karet dengan jalan tanah sepanjang 2 kilometer nan sunyi.

Istana prostitusi di kota Bumi Bersujud yang saat ini bernama Kapis itu berdiri 23 November Tahun 1993. Itu berawal, adanya kebijakan pemerintah kabupaten Kotabaru dibawah kepemimpinan Bektham (saat itu masih bergabung) meminta agar semua warung remang-remang yang berada di Pal7 Jalan Transmigrasi dipindah ke Desa Sungai Kecil (sekarang dimekarkan menjadi Desa Batu Ampar).

Dengan alasan, biar jauh dari pemukiman warga biasa. Bahkan, menurut Camat Batulicin kabupaten Kotabaru (sebelum pemekaran wilayah), Abdul Kadir Jaelani, kawasan Pal7 Jalan Transmigrasi tersebut akan digunakan pemerintah untuk pembangunan markas TNI yang sekarang ini bernama Batalyon Kompi Senapan C Tanah Bumbu.

Sebelum di Pal7, warung remang-remang itu sudah berdiri di wilayah Pal3 dekat perusahaan Kodeco yang merupakan perusahaan tertua di Batulicin sejak Tahun 1982. Karena banyak karyawan dan para pendatang, munculah warung-warung tersebut yang semula hanya menjajakan makanan dan minuman berupa the dan kopi.

“Awalnya hanya di dekat Kodeco. Karena ada pengembangan perusahaan, kita diminta untuk pindah di pal7. Setelah beberapa tahun kita juga kembali diminta pindah, karena daerah itu untuk pembangunan batalyon. Akhirnya, para pemilik warung juga sepakat dan sama-sama pindah di daerah ini,” kata Edi Hermawan, ketua RT17 Kapis.

Lebih lanjut pria berkumis tebal ini mengatakan, dengan modal bekas-bekas bangunan lama itu berdirilah sebuah warung di pinggir yang saat itu masih bernama Desa sungai Kecil kecamatan Batulicin.

Dalam perjalanannya, ternyata menarik perhatian masyarakat khususnya para pendatang untuk ikut-ikut mendirikan warung tersebut. Lantaran semakin banykanya warung, Tahun 1995 kembali diminta pemerintah kabupaten Kotabaru agar lokasi warung sebagian harus dipindah ke dalam hutan yang lebih jauh dari pemukiman warga dan yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Kapis Baru.

“Munculnya nama kapis lama dan Kapis baru itu ya adanya pemindahan sebagian warung-warung itu mas. Yang tidak pindah dinamakan Kapis lama dan yang pindah kesini disebut Kapis baru. Tapi masih satu desa, yang lama RT16 dan yang baru ini RT17,” terang.

Masih menurut Edi, dirinya terus mengikuti perkembangan lokalisasi tersebut hingga saat ini jumlahnya mencapai ratusan. Dirinya, juga ikut berjuang membuka lahan yang sekarang sudah menjadi pemukiman penduduk tersebut.

Awalnya, daerah itu berupa hutan. Untuk mendirikan Kapis baru, dia bersama warga membuka lahan sekitar 13 hektar. Selain untuk pemukiman, juga untuk perkebunan dan pertanian warga biasa.

“Dulu hutan lebat dengan pohon-pohon yang besar. Bahkan, saya sempat sakit 6 bulan setelah memotong pohon yang paling besar disini. Kata urang jawa, daerah ini angker karena sebelumnya tidak ada warga yang masuk. Dan kami-kami ini yang memulainya hingga menjadi seperti ini,” kenangnya.

Dan nama Kapis itu, lanjut Edi, diambil dari sebuah nama sungai yang ada di pinggir jalan tersebut yang merupakan asal muasal berdirinya Kapis dan sekarang Kapis lama itu. Sehingga, nama tersebut akhirnya melekat hingga sekarang ini.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s