Kearifan Petani Jeruk Lokal

Posted: January 2, 2011 in Budaya

“Jeruk Itu Warisan Leluhur Kami”

GEMPURAN industri sawit yang menawarkan penghasilan cukup menggiurkan, ternyata tidak menggoyahkan tekad Basran (55), warga desa Bakambat kecamatan Cerbon Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan. Sudah puluhan tahun, dia memilih tetap menekuni tanaman jeruk yang menjadi ikon kota Batola itu.

Sambil menaburkan pupuk ke pangkal pohon jeruk, sesekali kedua tangannya dengan lincah memilah buah jeruk yang masih kecil untuk diseleksi antara yang baik dan yang buruk.

“Kalau yang buruk langsung dibuang biar tidak mengganggu buah yang bagus,” ucapnya saat menyambut kedatanganku.

Dia salah satu dari puluhan hingga ratusan warga Batola yang masih istikomah dengan tanaman jeruknya. Baginya tidak mudah meninggalkan tanaman tersebut, karena merupakan tanaman yang sudah turun temurun dari leluhurnya yang sudah ditekuni sejak puluhan tahun silam.

Tak heran, meski ada tawaran untuk beralih ke tanaman lain yang memiliki penghasilan cukup besar, dirinya tidak menghiraukanya. Tetap memilih menekuni tanaman tersebut.

Baginya, tanaman jeruk di atas lahan 2 hektar miliknya sudah cukup untuk menopang kehidupan keluarganya. Termasuk menuntaskan pendidikan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Bagi saya tanaman jeruk itu seperti warisan, makanya susah kalau disuruh ganti. Padahal banyak saja tawaran seperti untuk berlaih ke sawit, tapi saya tetap menekuni jeruk ini saja,” cetusnya

Hal senada dikatakan Agus (37), petani jeruk lainnya. Meski harga jeruk lokal sering kalah dengan jeruk import, dirinya tidak surut untuk terus mengembangkan hasil pertanian tersebut.

Dia optimis, jeruk lokal tersebut bakal mampu bersaing dengan jeruk asal luar. Apalagi, hasil pertanian tersebut sudah menggunakan pupuk alami yang membedakan rasa buah tersebut dengan pengolahan yang serba kimiawi.

“Kekalahan kami hanya dipenampilan saja, mengingat petaninya masih tradisional. Tapi kalau dari segi rasa dan ketahanan buah, jeruka Batola tidak kalah,” katanya dengan percaya diri.

Sementara itu, pengamat hama dan penyakit dinas pertanian Batola Fauzan Muslim mengatakan, sudah beberapa tahun ini pihaknya terus mengembangkan potensi tanaman jeruk tersebut, salah satunya dengan sistem alamiah.

Artinya pemupukan dan pengolahan tanah dilakukan secara alami, dengan menggunakan pupuk kompos. Ternyata hasilnya cukup bagus, terbukti beberapa kali perlombaan baik tingkat nasional maupun Asia selalu memboyong piala.

“Dalam lomba tekhnologi pertanian, jeruk asal daerah sini justru mendapat juara II tingkat nasional. Artinya, sudah mulai diakui hasilnya,” terangnya.

Sedangkan luas tanaman jeruk di Batola saat ini mencapai 7.181 hektar, dan yang sudah produksi mencapai 1.177 hektar atau sekitar 235.473 pohon dengan penghasilan 26.320 ton dengan perincian setiap hektarnya menghasilkan 15 ton.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s