Pekerja Seks Komersial Merambah Banjarmasin

Posted: January 2, 2011 in Sosial

“Batubara Kendor, PSK pun Hijrah”

JARUM jam menunjukan pukul 00.00 dinihari. Dinginnya udara kota Banjarmasin serasa menusuk tulang. Dari balik remang-remang bangunan Pasar Lima kota Banjarmasin dan diantara gerobak pengangkut barang, muncul perempuan-perempuan muda yang dibalut pakain serba minim.

Ditambah dengan dandanan yang menor sambil menenteng tas kecil, mereka sepertinya tidak menghiraukan lagi bekunya udara kawasan yang akrab disebut Taman Sari itu.

Iringan musik yang diputar dari sebuah gerobak, seperti menjadi magnet bagi perempuan-perempuan tersebut. Karena semakin malam, jumlah mereka bertambah banyak. Ada yang duduk santai hingga berdiri di sudut-sudut jalan tersebut.

Dengan lincah dan sok akrab, mereka menyapa setiap orang yang melintas di kawasan itu dengan suara penuh menggoda. Termasuk menghampiri siapa saja yang berhenti di tempat itu.

“Abang mencari siapa. Kalau yang dicari tidak ada, saya mau menemani abang,” ucap perempuan yang mengaku bernama Icha dengan nada merayu.

Perempuan berusia sekitar 25 tahun itu, belum genap sebulan tinggal di kota Banjarmasin . Bersama puluhan temannya, dia mencoba keberuntungan untuk mengais rezeki di kota Banjarmasin ini.

Sebelumnya, dia tinggal di salah satu kawasan prostitusi di kota Tanahbumbu yang berjaraki sekitar 350 kilometer dari kota Banjarmasin .

Seiring makin redupnya bisnis batubara di kota itu. Apalagi banyak bos-bos emas hitam yang hengkang dari Bumi Bersujud. Sehingga dia memutuskan untuk nekad hijrah ke Banjarmasin .

Jika bertahan di daerah itu justru bakal mendatangkan hutang banyak karena harus membayar sewa rumah. Belum lagi ditambah ketatnya persaingan sesama teman, yang sama-sama mencari pria-pria berduit.

“Sekarang disana (Tanahbumbu,Red) mencari uang Rp 100 ribu saja susahnya minta ampun mas. Tau sendiri kan , banyak bos-bos batu bara yang pindah,” katanya.

Selama ini, diriya memberikan pelayanan arus bawah kepada bos-bos batubara yang berkantong tebal. Lantaran target operasinya sudah berkurang dan ketatnya persaingan, dirinya mencoba mencari nafkah di kota seribu sungai ini.

“Meski yang dilayani bukan bos, tapi disini justru lebih enak. Tidak ada potongan, hasilnya langsung masuk kantong sendiri. Karena yang bayar tempat, ya yang mengajak,” timpal perempuan lain.

Mereka tahu kawasan ini dari temannya yang sudah lama menjalankan ‘bisnis’ di kawasan Taman Sari. Meski tidak ada tempat khusus untuk mangkal, kawasan itu cukup kondusif untuk menjaring tamu-tamu dadakan tersebut.

Apalagi, imbuh dia, orang-orang berduit dari daerah-daerah tambang selalu ke Banjarmasin untuk mencari hiburan. Dengan hijrahnya ke Banjarmasin , diharapkan bisa mendapatkan rupiah untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari.

Di daerah ini mereka tidak tinggal satu rumah, dengan alasan biar aksinya itu tidak banyak diketahui para tetangga. Ada yang tinggal di kawasan Teluk Tiram, hingga kawasan yang agak jauh dari tempat mangkalnya sehari-hari itu.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s