Tambang Batu Bara Gusur Transmigran

Posted: January 2, 2011 in Sosial

JUMLAH transmigran di Kalsel dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Hal itu karena minimnya lahan untuk penampungan warga yang datang dari luar pulau, akibat banyaknya lahan yang berubah fungsi menjadi lahan perkebunan maupun areal pertambangan. Mengingat kedua sektor tersebut menjadi primadona ekonomi di banua ini.

Hal itu diungkapkan Kepala dinas tenaga kerja dan transmigrasi Kalsel, Kurdiansyah. Menurutnya, tahun ini saja jatah peneriman penyebaran penduduk di Kalsel hanya 252 kepala keluarga saja. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 650 kepala keluarga.

Meski begitu, dirinya tidak bisa berbuat banyak khususnya meminta agar para transmigran memilih ke daerah ini. Karena jika dipaksanakan bisa berakibat fatal, seperti banyak transmigran yang tidak betah.

“Memang kuota Kalsel sesuai lahan yang tersedia ya hanya sebanyak itu. Kalau dipaksakan ya tidak bisa, justru menyengsarakan para transmigran itu sendiri,” terangnya.

Dia mengakui, pemerintah daerah kesulitan untuk mendapatkan lahan. Mengingat, saat ini banyak yang sudah dimanfaatkan untuk perkebunan sawit maupun karet. Bahkan juga banyak yang digunakan untuk lahan pertambangan. Sesuai aturan, selain menyediakan tempat tinggal pemerintah juga harus menyediakan lahan untuk pertanian atau perkebunan bagi warga transmigran itu. Termasuk jatah hidup selama 1 tahun.

“Kalau untuk perumahan saja sudah terbatas, bagaimana penyediaan untuk lahan pertanian mereka. Karena fungsi transmigran itu kan mengerjakan lahan-lahan kosong,” urainya.

Sementara itu, dari pantauan di sejumlah lokasi transmigrasi di kabupaten Barito Kuala banyak yang ditinggalkan penghuninya. Seperti yang terlihat di wilayah kecamatan Mandastana kabupaten Barito Kuala (Batola).

Dari sekitar 400 rumah yang ada di kawasan itu, saat ini yang masih ditempati hanya sekitar 100 rumah saja. Sisanya ditinggalkan kosong oleh pemiliknya. Banyak transmigran yang memilih kembali ke kampung halamannya maupun pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih layak lagi. Sehingga mereka meninggalkan rumahnya begitu saja, termasuk lahan pertanian.

“Rumah-rumah itu sudah kosong mas. Pemiliknya, ada yang kerja ke kota dan sebagian juga memilih balik ke kampung halamannya di Jawa sana ,” ujar Sugimin salah seorang transmigran.

Lebih lanjut dia mengatakan, menurutnya para tetangganya itu sudah bosan berada di desa. Apalagi, kehidupannya juga tidak terlalu berubah. Yakni tetap sebagai petani maupun berkebun dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Termasuk sudah tidak kerasan lagi berada di perantauan. Karena merasa tidak ada perubahan, meski sudah beberapa tahun meninggalkan kampung halaman.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s