Transmigran Memilih Pindah ke Kota

Posted: January 2, 2011 in Sosial

KEDUA Tangan Sugimin (45), dengan lincah mencabuti rumput yang mulai tumbuh yang ada di halaman rumahnya, di kecamatan Mandastana kabupaten Barito Kuala.

Sesekali, bapak empat itu terlihat menghela nafas panjang sambil menatap hamparan tanah yang mengelilingi tempat tinggalnya itu. Termasuk melihat rumah-rumah bekas tetangganya yang sudah dibiarkan kosong dan mulai rusak tersebut. Saat ini, lingkungan tersebut terlihat sunyi. Ratusan rumah yang ada di kawasan tersebut, terlihat kosong dan tidak berpenghuni. Bahkan, beberapa bangunan tersebut dibiarkan rusak dimakan cuaca.

“Rumah-rumah itu sudah kosong mas. Pemiliknya, ada yang kerja ke kota dan sebagian juga memilih balik ke kampung halamannya di Jawa sana ,” ujarnya.

Itulah suasana salah satu kawasan transmigrasi yang ada di Mandastana tersebut. Saat ini, banyak para transmigran yang sudah meninggalkan tempat tinggalnya itu. Termasuk lahan perkebunan maupun pertanian yang sudah beberapa tahun menjadi penyangga hidup. Dari 400 rumah saat membuka areal tersebut sekitar tahun 2003 lalu, saat ini tinggal 100 rumah saja. Para pemilik rumah tersebut, rela meninggalkan rumah itu begitu saja karena ada yang mendapat tempat yang lebih layak di perkotaan maupun memilih balik ke kampung.

“Rata-rata ditinggalkan saja, dan langsung memboyong keluarganya menuju ke kota maupun pulang ke daerah asal,” timpal, Saleh salah seorang transmigran lainnya.

Ditanya apakah lahan yang dikelola sudah tidak potensi lagi, menurutnya lebih disebabkan mendapat pekerjaan yang lebih enak dibandingkan tinggal di kawasan ini. Termasuk sudah tidak kerasan lagi berada di perantauan. Karena merasa tidak ada perubahan, meski sudah beberapa tahun meninggalkan kampung halaman.

Sementara itu, menurut Kepala dinas tenaga kerja dan transmigrasi (Disnakertrans) Kalsel, Kurdiansyah, jika keberadaan transmigran itu lebih dari 5 tahun maka sudah tidak lagi menjadi tanggung jawab pihaknya. Namun sudah menjadi warga biasa, layaknya penduduk asli setempat.

Artinya, jika terpaksa meninggalkan tempat tersebut maka dipersilahkan saja. Termasuk menjual atau membiarkan lahan dan rumah yang pernah ditempatinya itu.

“Yang meninggalkan tempat itu mayoritas yang sudah lebih 5 tahun menjadi transmigran. Dan warga tersebut sudah menjadi warga biasa,” terangnya.

Saat ditanya program transmigran tersebut tidak berhasil, Kurdiansyah langsung menampiknya. Meski tidak menyebut angka secara pasti, menurutnya lebih banyak yang bertahan dibanding yang meninggalkan kawasan tersebut. Diakuinya, jumlah transmigran di Kalsel memang mengalami penurunan. Dari tahun 2009 sebanyak 630 kepala keluarga (KK), namun tahun 2010 ini hanya 300 KK saja. Hal itu disebabkan lahan yang diperuntukan sudah terbatas karena tergerus untuk perkebunan dan pertambangan.

Karena fasilitas yang harus diterima transmigran tersebut, selain mendapatkan rumah juga lahan untuk pertanian maupun perkebunan seluas 1,5 hektar dan biaya hidup mereka selama 1 tahun.

“Dana yang disiapkan pusat tahun 2009 untuk transmigran sebesar Rp 6 Miliar. Karena selama berstatus transmigran itu harus ditanggung pemerintah,” urai Kurdiansyah.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s