Kearifan Petani Lokal

Posted: January 8, 2011 in Budaya

“Biar Lebih Murah Kami Tak Mau Menjual”

MENDUNG yang menutup langit kawasan Anjir Muara kabupaten Barito Kuala (Batola), tidak mematahkan semangat Masdar (55). Pria yang rambutnya sudah warna perak itu, dengan setia menunggu jeruk, nanas dan beberapa jenis buah lainnya yang dijual di kios kecil dan sederhana yang berada di pinggir jalan yang menghubungkan ke kota Kapuas itu.

Sesekali, kedua tangganya yang dibalut kulit yang sudah keriput karena dimakan usia, dengan lincah mengelompokkan buah yang berjajar di atas meja yang terbuat dari bambu berukuran sekitar 50×150 sentimeter itu.

“Ini untuk memudahkan pembeli. Ayo dipilih yang mana, yang kecil atau yang agak besar. Tapi dicoba dulu juga tidak apa-apa,” katanya saat menyambut kedatangan BPost.

Berprofesi sebagai pedagang jeruk sudah diatekuni selama puluhan tahun. Selain menjual hasil kebun sendiri, juga menjual hasil kebun tetangga yang sama-sama memiliki pohon jeruk. Termasuk buah hasil kebun lainnya.

Saat disinggung maraknya jeruk impor yang harganya jauh lebih murah, bagi Masdar bukan ancaman yang berarti. Karena, masih banyak warga yang lebih suka memilih jeruk petani yang menjadi andalan khas Batola itu.

Selain itu, puluhan pedagang di sepanjang jalan menuju Kapuas itu tidak mau menjual jeruk impor tersebut. Mereka lebih bangga menjual hasil kebun mereka sendiri, meskipun terkesan ketinggalan zaman.

“Biar jeruk yang kecil itu lebih murah dan enak, tapi masih banyak yang memilih jeruk kami. Apalagi, para pedagang disini tidak mau menjual jeruk yang seperti itu,” tukasnya.

Hal senada dikatakan Aisyah (45), pedagang buah lainnya. Menurutnya para pedagang sepakat hanya berjualan jeruk hasil kebun masyarakat tersebut.

Dia mengakui, harga yang ditawarkan pun bervariasi sesuai dengan ukuran jeruk tersebut. Untuk yang ukurannya kecil, setiap 10 biji diberi harga Rp 6 ribu. Sedangkan yang ukurannya lebih besar harganya sekitar Rp 8-9 ribu.

Harga tersebut memang jauh lebih mahal dibandingkan jeruk impor, yang setiap bungkusnya hanya berkisar antara Rp 4-5 ribu saja. Bahkan, rasanya pun terasa lebih manis.

“Memang harga jeruk yang kecil itu lebih murah. Paling tidak dengan menjual jeruk hasil kebuin sendiri, juga menghargai hasil warga sendiri. Untungnya sampai saat ini tetap saja laku,” tandasnya.

Dari pantauan BPost, sepanjang jalan di dekat kawasan Jembatan Barito hingga Anjir Muara, terdapat sekitar 20 pedagang buah yang berjajar di pinggir jalan menggunakan kios kecil dan sederhana.

Tempat jualan mereka hanya terbuat dari dua tiang bambu, yang diikat dengan bambu lainnya hingga menyerupai rumah. Atapnya pun hanya terbuat dari anyaman daun rumbia.

Para pedagang tersebut, tidak ada satupun yang menjual jeruk impor tersebut. Mereka hanya menjual jeruk dan buah lainnya yang merupakan hasil kebun masyarakat seperti nanas, sawo, langsat.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s