Pengobatan Tradisional Masyarakat Dayak

Posted: January 8, 2011 in Budaya

“Penyembuhan Dengan Tarian Topeng”

TUBUHNYA kurus dan hanya mengenakan kaos oblong (tanpa krah). Bahkan jenggotnya yang sudah berwarna perak dibiarkan tidak tertata. Begitu juga dengan rambutnya yang hanya ditutupi dengan topi putih.

Itulah sosok, H Iderus (51). Bapak empat anak ini, merupakan pensiunan penjaga SD Tata Masjid di Alalak Bhakti kabupaten Barito Kuala (Batola).

Di kampungnya di kawasan Alalak Brangas, dia lebih dikenal dengan sebutan H Pa Rudi. Sebutan itu diberikan lantaran anak pertamanya bernama H Rudi.

Dia adalah keturunan keenam datuk Tarap. Yakni, seorang datuk yang dikenal di kalangan masyarakat Dayak Bakumpai yang memiliki keahlian menyembuhkan segala penyakit dengan menggunakan tarian topeng dalam upacara Badewa.

Sebanyak 30 jenis topeng yang terbuat dari kayu pelantan disimpan dalam peti yang terbuat dari kayu, diletakkan disamping seperangkat gamelan seperti gong, kenong dan beberapa peralatan lainnya di ruang tamu rumah Iderus.

“Peralatannya kami simpan disini saja, biar enak kalau diperlukan sewaktu-waktu,” katanya dengan bahasa Dayak Bakumpai yang masih fasih.

Untuk menyembuhkan pasien itu sendiri, Iderus bersama krunya seperti penari, pemukul gamelan menggelar acara seperti pertunjukkan kesenian dengan dihadiri pasien yang akan menjalani penyembuhan.

Hanya saja, pagelaran tarian topeng itu dilengkapi dengan beragam sesaji seperti wadai 41 macam, 4 ekor ayam, menyembelih kambing, kepala muda, beras, ketan dan gula merah sebagai persyaratannya.

Ketika persyaratan itu sudah lengkap, Iderus langsung membacakan mantera-mantera untuk mengundang roh para leluhur yang diyakini mengganggu dan menimbulkan penyakit tersebut, diiringi dengan tarian topeng yang dimainkan sejumlah penari.

“Kalau pasien itu berteriak seperti orang kesakitan, itu tandanya upacara badewa yang kami gelar masuk. Sebab setelah itu, dia langsung lemas dan sembuh,” katanya dengan nada berat.

Pasien yang datang kepadanya beragam. Mulai orang stres atau gila hingga berbagai penyakit yang diduga akibat guna-guna yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi. Lantaran saking banyaknya.

Apalagi, pasien yang sudah berhasil disembuhkan dengan pengobatan yanmenggabungkan kesenian tersebut berasal dari berbagai daerah. Seperti Surabaya, Jakarta, Sumatera hingga beberapa warga luar negeri.

“Sudah banyak, karena mulai dikenal masyarakat bisa mengobati dengan cara tersebut sejak tahun 80-an,” tukasnya.

Saking banyaknya pasien yang sudah disembuhkan itulah, pria yang sudah berumur separo abad itu kerap mengikuti kegiatan bertaraf nasional.

Beberapa tahun silam, dia bersama timnya diundang ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta untuk mengikuti kegiatan pengobatan masal.

Bersama para tabib dari berbagai daerah seperti Banten, Banyuwangi, Sumatera, dengan pengobatan tradisional nenek moyangnya itu, dia berhasil menyembuhkan puluhan pasien yang datang.

“Pernah ada pentas pengobatan masal di TMII. Kami diundang mewakili Kalsel, bersama para tabib luar daerah berhasil menyembuhkan puluhan pasien yang datang,” kenangnya sambil menunjukkan empat piala yang berjajar diatas almari ruang tamunya.

Bagi Iderus, dia menekuni kegiatan tersebut semata-mata untuk memelihara kebudayaan leluhurnya. Apalagi, kesenian yang dipercaya bisa menjadi obat tersebut sudah mulai punah karena minimnya generasi penerus.

“Ini kebudayaan nenek moyang kami, sudah selayaknya kami memeliharanya,” tandasnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s