Batola Miliki Padi Unggulan Daerah

Posted: January 9, 2011 in Berita

– Padi Unggul, Rasa Tetap Lokal

– Sudah disahkan Menteri Pertanian

BANJARMASIN, BPOST-Masyarakat Batola patut berbangga hati. Di usianya ke-51 ini, mendapatkan kado istimewa berupa pengesahan padi unggulan asli Batola oleh Menteri Pertanian, Suswono.

Benih padi yang bernama IPB 2 Batola itu, merupakan hasil persilangan antara benih unggul dan benih lokal itu, dilakukan sejumlah pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang melakukan penelitian sekitar 6 tahun.

“Ini penghargaan yang luar biasa dari pemerintah pusat atas hasil keras pemerintah daerah, masyarakat dan pakar yang bekerja keras untuk memiliki benih padi khas lokal,” ujar Bupati Batola, H Hasanuddin Murad.

Dengan lahirnya benih padi yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan benih lokal, diharapkan bisa menambah produktifitas hasil pertanian. Sehingga status Batola sebagai penghasil padi terbanyak dan penyangga pangan nasional tetap berlanjut.

Sementara itu Kepala dinas pertanian Batola, Zulkifli yang ditemui usai peringatan HUT Batola mengatakan, IPB 2 Batola yang disahkan menteri pertanian tersebut merupakan salah satu dari 8 galur yang diusulkan ke pusat untuk mendapatkan pengesahan.

“Kami mengusulkan 8 kemudian diseleksi menjdi 4 dan yang sudah ditetapkan pak menteri pertanian 1 buah dan diberi nama IPB 2 Batola,” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, 8 galur benih padi hasil perkawinan silang tersebut sudah diuji coba tanam di daerah Rantau Badauh di atas lahan seluas 8 hektar.

Karena yang mendapatkan pengesahan hanya satu galur, maka sisa penanaman tersebut akan disisihkan. Konsentrasihanya satu galur yang mendapatkanpersetujuan dari Menteri Pertanian Suswono tersebut.

Adapun keunggulan benih padi IPB 2 Batola itu, lanjut Zulkifli, umurnya lebih pendek dibandingkan padi lokal. Karena IPB 2Batola itu hanya berumur 4 bulan, sedangkan padi lokal berumur 8 bulan

Kemudian, tingkat produktiftas padi tersebut cukup tinggi yakni 5 ton per hektar. Sedangkan padi lokal hanya mampu produksi sebesar 3 ton per hektar.

“Yang tidak ketinggalan, rasa berasnya tetap lokal. Yakni parau, sehingga masyarakat diharapkan tetap menyukai benih hasil penemuan tersebut,” terangnya.

 

Bahkan untuk pola tanam sendiri dipastikan tidak mengalami kesulitan. Karena penanaman dan perawatan seperti halnya tanaman padi lokal, sehinga petani dipastikan tidak terlalu kesulitan.

Ditargetkan Oktober nanti masyarakat sudah melakukan penanaman padi jenis tersebut. Karena saat ini sgera melakukan sosialisasi kepada petani mengenai benih padi asal daerah sendiri itu.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s