“Terpaksa Tidak Pakai Sepatu Saat Upacara”

Posted: January 11, 2011 in Sosial

Kala Upacara di Genangan Air

SEMANGAT kepahlawanan. Itulah pemandangan yang terlihat di SMPN 22 Banjarmasin. Meski halaman sekolah mereka yang berada di Jalan Simpang Layang RT07 Sungai Lulut Dalam tergenang air hampir setinggi lutut, sebanyak 417 siswa dan guru tetap menggelar upacara dalam rangka memperingati hari pahlawan, Rabu (10/11) pagi.

Kegiatan yang dipimpin langsung Kepala SMPN 22 Banjarmasin, Tri Nanto Priyono para siswa dan guru dengan khidmat melaksanakan kegiatan yang berlangsung hampir satu jam tersebut.

Seluruh petugas upacara yang terdiri dari pasukan pengibar bendera, pembaca Undang-undang Dasar 1945, pembaca doa dan pancasila, harus rela melepas sepatu. Termasuk menggulung celananya, karena halaman yang menjadi tempat upacara terganang air akibat guyuran hujan dan luberan Sungai Lulut yang membentang kawasan itu.

Sedangkan peserta upacara, baik guru maupun ratusan siswa lainnya, berjajar di teras sekolahan tersebut. Karena, seluruh areal halaman sekolah yang luasnya mencapai 6 ribu meter persegi itu tergenang air hampir mencapai lutut orang dewasa.

Bagi siswa, pemandangan tersebut sudah menjadi rutinitas setiap musim hujan dan air pasang sungai yang ada di depan sekolah tersebut. Namun, ironis karena sekolah tersebut berada di kawasan kota Banjarmasin yang menjadi ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

Meski harus melepas sepatu dan menyingsingkan celana, para siswa yang menjadi petugas upacara tidak merasa risih. Apalagi harus menanggung asa gatal-gatal, serta menghadapi ular-ular tanah yang keliaran di depan mereka.

“Sudah biasa bang. Setiap musim hujan, sekolah kami selalu seperti ini. Menurut orang kampung calap,” kata Putri Rahmah, petugas pengibar bendera.

Bagi dia, luberan air Sungai Lulut yang menggenangi halaman sekolah bukan halangan baginya untuk menggelar upacara. Apalagi, peringatan hari pahlawan itu dilaksanakan setahun sekali.

“Hari pahlawan itu kan setahun sekali, jadi bukan hambatan bagi siswa untuk tidak melaksanakan upacara,” cetusnya.

Sekolahan yang memiliki 12 kelas itu sudah menjadi langganan genangan air. Utamanya saat curah hujan tinggi, ditambah kondisi air Sungai Lulut sedang pasang.

Karena seluruh lahan sekolahan yang mencapai 9 ribu meter persegi itu, kondisinya sangat rendah dan bekas rawa. Tak ayal, sebagian halaman sekolahan itu menyerupai ladang karena rumputnya sangat tinggi.

Bahkan kondisi bangunan sekolahan tersebut juga berupa panggung yang mengintari areal itu. Untuk menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya, disambung dengan teras maupun balik titian seperti jalan menuju ruang kantin sekolah.

“Memang lahan sekolahan ini awalnya rawa, sehingga sangat rendah. Kalau ada hujan lebat dan air pasang, pasti tergenang,” ujar Kepala sekolah Tri Nanto Priyono.

Lebih lanjut dia menjelaskan, para guru di sekolah tersebut sudah menyadarinya. Sehingga tidak menjadi beban atau hambatan dalam melaksnakan tugas, untuk mencerdaskan ana-anak bangsa.

“Termasuk melasanakan upacara ini. Apalagi ada himbauan dari dinas pendidikan agar melaksanakan kegiatan upacara,” tandasnya.

Memprihatinkan

Selain pemandangan genangan air yang mengepung sekolahan tersebut, akses jalan untuk menuju SMPN 22 Banjarmasin itu juga memprihatinkan.

Para siswa dan guru setiap hari harus menyusuri jalan sepanjang 500 meter dngan lebar sekitar 1,5 meter untuk menuju sekolahan tersebut. Kanan dan kiri jalan tersebut, sebagian besar merupakan kawasan pemukiman padat penduduk.

Akses jalan untuk menuju sekolah itu lebih banyak berupa tanah. Meskipun sebagian berupa cor semen yang sudah rusak, selain terendam air maupun dimakan usia.

Termasuk lima jembatan yang menghubungkan akses jalan itu juga masih berupa kayu. Sehingga harus hati-hati saat melintas di jalan tersebut, termasuk saat musim hujan dan air pasang.

“Kami sudah biasa kalau jatuh. Karena jalannya sempit dan tergenang air lagi,” ujar salah seorang guru.

Tidak jarang, jika kondisi air pasang cukup tinggi para guru memilih menitipkan kendaraan di pinggir jalan raya. Mereka masuk ke sekolah dengan jalan kaki, karena dianggap lebih aman dibandingkan harus memaksakan diri menaiki kendaraan.

“Dari pada jatuh dan sabah kuyup, ya lebih baik kendaraan dititipkan di depan sana,” urainya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s