“Kalau Ngantuk Tidur di Pinggir Jalan”

Posted: January 18, 2011 in Budaya

– Geliat Warga Mudik Lebaran

TRADISI merayakan lebaran di kampung halaman bersama keluarga bagi perantauan alias mudik, meski mengasyikan tapi juga merlukan perjuangan berat.

Sahrani (46), warga Tabalong. Dia salah satu dari puluhan bahkan ratusan warga Kalimantan Selatan yang meramaikan arus mudik. Menggunakan kendaraan buatan tahun 90-an, dia membawa istri dan dua anaknya.

Anaknya yang berusia sekitar 7 tahun, ditempatkan di depan. Diajak melawan angin dan kepulan asap mobil yang berseliweran di sepanjan jalan negara menuju kampung halamannya itu.

Tidak ketinggalan, sepeda motor yang sudah mulai diserang karat itu diberi kayu yang diikat dengan bodi kendaraannya untuk menaruh tas berisi pakaian selama merayakan lebaran di kampung kelahirannya.

“Maklum mas tidak punya mobil, terpaksa ya apa adanya yang penting bisa sampai kampung ketemua keluarga,” katanya kepada BPost.

Dia terpaksa menghentikan perjalanannya sebentar di kawasan Desa Cabe kecamatan Simpang Empat Martapura, untuk melepaskan rasa lelah dan ngantuk yang mulai menyerangnya.

Maklum saja, dia meninggalkan rumahnya di kawasan Kapuas Kalimantan Tengah masih pagi buta. Dengan harapan, selama menempuh perjalanan ke kampung halaman di wilayah Kabupaten Tabalong tidak sampai panas.

Dia menghamparkan tikar yang dibawa sejak dari rumah di pinggir jalan yang teduh. Dia merebahkan badan di atas tikar. Begitu juga dengan istri dan dua anaknya yang menggunakan tas berisi baju sebagai bantal.

“Ngantuk banget mas. Jika dipaksa dibawa jalan kan bahaya, makanya lebih baik tidur sebentar,” ujarnya.

Kebiasan mudik itu selalu dijalaninya setiap tahun dengan menggunakan sepeda motor. Meski terasa berat, dirinya sudah biasa menjalaninya.

“Ya sekuatnya saja mas. Kalau capek ya istirahat, yang penting bisa sampai kampng ketemu orangtua,” tandasnya.

Dari pantauan BPost sejak Sabtu (4/9) kemarin, geliat arus mudik yang menggunakan jalur darat, baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum sudah mulai terlihat.

Kepadatan arus lalulintas khususnya kendaraan bermotor, mulai memadati sepanjang jalan utama menuju kawasan hulu sungai maupun wilayah Tanahlaut hingga Kotabaru.

Barang bawaan berupa tas beragam ukuran maupun kardus, menjadi hiasan utama bagi pengendara. Mereka terlihat menenteng bawaan dalam jumlah banyak sebagai bekal untuk merayakan lebaran di kampung halaman.

Lonjakan Penumpang

Pemandangan serupa juga terlihat di Pelabuhan Trisakti Bandarmasih Banjarmasin, Minggu (5/9) dinihari. Sekitar 1.500 calon penumpang memadati ruang terminal pemberangkan pelabuhan.

Teriakan dan desak-desakan pun langsung terjadi, ketika petugas membuka pintu terminal tersebut untuk menuju kapal yang akan membawanya berlayar ke Surabaya tersebut.

Sejak awal bulan, lonjakan penumpang sudah terjadi di pelabuhan tersebut. Yang biasanya hanya mengangkut sekitar 500 orang, kini sudah mencapai 1.500 penumpang. Belum lagi mobil maupun truk pengangkut sembako.

“Sudah ada lonjakan sekitar 1000 orangsetiap perjalanan. Dan ini diperkirakan smapai lebaran kurang sehari,” ujar salah seorang petugas pelabuhan.

Untuk mengantisipasi bercampurnya antara penumpang yang mau berangkat dengan yang datang, sudah dibangun jalur masuk berbeda. Dengan begitu meski terjadi lonjakan tidak menimbulkan keributan.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s