“Meski Sepi Kami Tetap Bertahan Jualan di Sungai”

Posted: January 18, 2011 in Budaya

– Seminar Kelestarian Pasar Terapung

KAMI tidak tergiur jualan di daratan meskipun pembeli di Pasar Terapung Lokbaintan lebih sering sunyi. Tapi aktifitas itu sudah turun temurun dari nenek moyang kami.

Itulah sepenggal pernyataan Basiah (54), salah satu pedagang di Pasar Terapung Lokbaintan. Keluhan dan keetian itu disampaikan dalam acara seminar sehari bertajuk Kelestarian dan Kesinambungan Pasar Terapung sebagai ikon pariwisata kota Banjarmasin yang digelar di aula Palimasan lantai V kantor pusat Banjarmasin Post Group.

Selain dihadiri para pejabat dan dinas pariwisata pemprov dan pemko Banjarmasin serta kalangan pemandu wisata dan perhotelan, juga dihadiri para pedagang Pasar Teraung Lokbaintan, dan Kuin serta para motoris kelotok yang biasa mengantarkan wisatawan.

Mayoritas pedagang mengeluhkan kurangnya perhatian pemegang kebijakan dalam melestarikan Pasar Terapung tersebut. Bahkan mereka khawatir jika dibiarkan akan punah. Meski tradisi masyarakat, namun aktifitas itu memiliki nilai wisata yang layak dipromosikan.

“Selama ini kami khawatir, kalau sampai punah bagaimana caranya menghidupkan lagi,” kata Basiah.

Sehingga meski banyak munculnya pasar-pasar tradisional yang lebih nyaman dirinya bersama para pedagang lainnya tetap memilih bertahan jualan di kawasan Lokbaintan tersebut.

Hal senada dikatakan salah seorang motoris kelotok, Rusdi. Dia mengeluhkan minimnya dermaga yang bisa digunakan untuk bersandar armada yang dikemudikannya itu. Termasuk adanya pungutan liar di sejumlah tempat yang sering menjadi target persinggahan wisatawan.

“Kalau orang kampung sudah biasa, dermaga itu gelap. Tapi bagi wisatawan kan tidak terbiasa, makanya tolong dermaga yang ada itu diperbaiki,” pintanya.

Karena bagaimanapun juga, dermaga merupakan bagian pendukung aktifias tersebut. Karena kelotok tidak bisa bersandar disemabrang tempat.

Sementara itu, seminar yang digelar forum pariwisata Kalsel dan didukung sepenuhnya Banjarmasin Post Group itu menghadirkan tiga nara sumber. Yakni peneliti Unlam Fatimah, budayawan Kalsel HM Mugeni dan guru besar ITS Surabaya Prof Johan Silas mendukung upaya para pedagang tersebut.

Namun, pakar tata ruang itu berharap ada dukungan dari pemerintah baik dalam bentuk pendanaan maupun pembinaan. Sehingga potensi Pasar Terapung tersebut bisa digarap secara maksimal.

“Memang harus diakui, Pasar Terapung yang ada di Kalsel ini termasuk langka. Tapi belum digarap secara maksimal,” katanya.

Menurutnya, keunikan transaksi jual beli yang merupakan khasanah budaya banjar itu harus ditonjolkan. Dengan begitu, masyarakat Indonesia tidak perlu lagi berduyun-duyun ke Bangkok jika ingin merasakan nuansa Pasar Terapung.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s