Raih Adipura Makin Sulit

Posted: January 18, 2011 in Berita

– Kebersihan udara dan air masuk kriteria

BANJARMASIN-Harapan kota Banjarmasin untuk mendapatkan piala Adipura semakin sulit. Karena kementrian lingkungan hidup, mulai 2011 nanti bakal menambah objek penilaian untuk mendapatkan piala lambang supremasi kebersihan itu.

Mengingat selama ini, kota yang memiliki julukan seribu sungai ini  terus gagal memboyong piala Adipura. Dan tahun 2010 kemarin hanya puas mendapatkan piala Adipura saja, lantaran hasil penilaian belum layak untuk memboyong piala tersebut.

Rencana penambahan objek penilaian tersebut, diungkapkan Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta saat bincang-bincang dengan awak redaksi BPost Group. Menurutnya, penambahan kriteria penilaian itu untuk menuju daerah yang benar-benar bersih dan sehat.

“Mulai tahun depan masalah kualitas air dan udara akan masuk kreteria penilaian Adipura,” katanya.

Jangan heran jika mendatang jumlah daerah yang menerima pala maupun piagam Adipura semakin sedikit. Mengingat bertambahnya objek penilaian tersebut.

Selama ini yang menjadi objek penilaian tim yang dikomandani menteri asli banua ini hanya fokus pada masalah kebersihan dan penghijauan daerah saja. Dirasakan penilaian tersebut sudah tidak relevan lagi dan perlu adanya penambahan.

Dengan penambahan objek penilaian tersebut, diharapkan menjadi penyemangat masing-masing daerah untuk menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan secara menyeluruh.

“Semoga halitu bukan menjadi beban, justru menjadi penyemangat untuk berlomba-lomba menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” terangnya.

Apalagi, dari hasil penilaian kementrian lingkungan hidup kualitas air dan udara di banua ini menempati posisi ke 26 dari 30 provinsi di Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan hasil uji petik yang dilakukan badan lingkungan hidup daerah (BLHD) Kalimantan Selatan kondisi air di Banjarmasin sangat memprihatinkan. Air sungai tersebut tidak layak dikonsumsi lantaran banyak mengandung logam berat dan bakteri ekoli.

Seperti yang terlihat di bantaran Sungai Martapura. Tempat buang air besar dan kecil yang bercampur dengan tempat mandi itu, berjajar di sepanjang bantaran tersebut. Seperti yang nampak di kawasan Alalak, Kuin maupun Kelayan.

Selain itu di kawasan Pekapuran. Tempat buang air besar warga berdiri di sepanjang sungai tersebut. Sehingga, sungai itu tidak bisa lagi dilintasi kelotok masyarakat karena dimanfaatkan untuk pembuatan jamban tersebut.

“Sudah bertahun-tahun dilakukan pengujian air, pencemaran ekoli yang masih menjadi juara. Karena sampai saat ini warga masih terbiasa buang air besar di sungai,” terang Kepala BLHD Kalsel, Rakhmadi Kurdi.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s