14 Bahasa Daerah di Kalsel Terancam Punah

Posted: January 30, 2011 in Berita

– Bahasa Brangas punah

BANJARMASIN-Perkembangan tekhnologi telah menggeser beragam kebudayaan, termasuk mengancam keberadaan bahasa daerah. Bahkan bahasa Brangas yang biasa digunakan masyarakat Alalak Pulau saat ini sudah punah. Karena masyarakat setempat tidak lagi menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Hal itu diungkapkan Kepala balai bahasa Kalsel, Mugni usai mengikuti coffee morning di Graha Abdi Persada pemprov Kalsel. Menurutnya, karena masyarakat yang tinggal di sebuah pulau kecil yang masuk wilayah kabupaten Batola itu tidak lagi menggunakan dialek bahasa kampung tersebut.

“Para warga sudah berbaur dan menggunakan bahasa banjar yang biasa digunakan masyarakat sehari-hari. Dengan begitu, bahasa asli kampung tersebut sudah tidak ada lagi,” terangnya.

Tidak hanya itu, bahasa daerah di Kalsel yang jumlahnya mencapai 14 bahasa keberadaannya juga terancam. Hal itu disebabkan salah satunya tingginya tingkat urbanisasi di daerah, dan terjadinya pergeseran budaya yang ada di daerah.

Disinggung keberadaan bahasa banjar, menurut Mugni hingga saat ini masih eksis aik yang berdialek kuala maupun hulu. Namun tidak menutup kemungkin juga terancam punah, karena banyak pendatang dari daerah lain yang tinggal di banua ini.

“Sekarang ini kan sudah banyak warga pendatang, maupun kawin dengan daerah lain. Sehingga dari pada kesulitan mereka memilih menggunakan bahasa Indonesia. Dengan begitu, akan menggerus eksistensi bahasa lokal,” tegasnya.

Hal senada dikatakan kepala bidang pengembangan pusat bahasa, Sugiono. Berdasarkan hasil penelitian pusat bahasa menyebutkan, hingga akhir abad XXI ini sebanyak 746 bahasa daerah yang ada di Indonesia tinggal 10 persen saja.

“Kalau perkiraan itu benar, berarti tahun 2099 nanti bahasa daerah yang ada di Indonesia tinggal 75 saja,” katanya.

Saat ini, bahasa daerah yang sudah dinyatakan punah sebanyak 15 bahasa. Sedangkan yang terancam punah secara keseluruhan jumlahnya mencapai 150 bahasa daerah.

Adapun bahasa daerah yang sudah mulai punah, adalah bahasa di pedalaman Papau maupun Halmahera. Termasuk, bahasa daerah yang biasa digunakan masyarakat yang tinggal di pulau terpencil.

“Yang sudah punah itu di daerah Halmahera. Karena banyak penduduk di daerah itu yang sudah mulai pindah ke kota lain,” paparnya.

Mempercepat Kepunahan

Disadari ataupun tidak, mengajar anak sejak dini menggunakan bahasa asing merupakan bagian dari upaya mempercepat kepunahan bahasa daerah. Karena dengan begitu, anak maupun orangtua dalam komunikasi sehari-hari tidak lagi menggunakan bahasa daerah.

“Memang satu kebanggaan jika anak kita mahir bahasa asing. Tapi kalau itu terus yang digunakan, maka bagian dari upaya mempercepat kepunahan bahasa daerah,” kata Sugiono.

Selain itu, imbuh Sugiono, adanya perkawinan campuran atau berbeda suku. Lantaran kesulitan menggunakan bahasa daerahnya, akhirnya mereka menggunakan bahasa nasional sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Kemudian, juga adanya bencana alam seperti yang terjadi di Aceh. Karena banyak penduduk setempat yang meninggal dunia, akhirnya komunitas tersebut mulai tersisih dengan komunitas pendatang yang tentunya menggunakan bahasa dari daerahnya sendiri.

“Termasuk arus urbanisasi yang kuat. Dengan begitu, bakal menggeser bahasa daerah itu sendiri,” terangnya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s