Andalkan Produksi Ikan Keramba

Posted: January 30, 2011 in Berita

– Hasil tangkapan nelayan berkurang

BANJARMASIN-Berkurangnya hasil tangkapan ikan para nelayan, membuat dinas perikanan dan kelautan Kalsel memutar otak. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat banua, saat ini memaksimalkan produksi ikan budidaya. Alias ikan hasil peliharaan masyarakat seperti keramba maupun kolam.

Hal itu dikatakan kepala dinas perikanan dan kelautan Kalsel, Mohamad Isra sebelum mengikuti coffee morning. Menurutnya jika menggantungkan haisl tangkapan nelayan di laut, dikhawatirkan tidak mencukupi untuk keperluan masyarakat.

“Makanya saat ini kami sedang mengoptimalkan hasil produksi budidaya perikanan. Para petani ikan di daerah-daerah kita pacu untuk terus mengembangkan produksi ikan itu,” katanya.

Pada tahun 2010 ini, pihaknya mentargetkan produksi ikan tersebut sebesar 207,195 ton. Namun hingga Maret lalu, produksi tersebut masih mencapai 45,9 ribu ton saja. Atau 36 kilogram per kapita, di atas produksi nasional yang hanya 26 kilogram per kapita.

Menurunnya hasil tangkapan nelayan tersebut, imbuh dia, lebih disebabkan banyak rusaknya mangrove maupun terumbu karang di pesisir pantai yang ada di Kalsel rusak parah. Termasuk sudah banyak yang beralih fungsi, untuk perkebunan maupun pelabuhan khusus (Pelsus) batu bara.

Padahal, keberadaan mangrove maupun terumbu karang tersebut menjadi tempat bagi ikan untuk berkembang biak. Karena penetasan telur itu lebih banyak dilakukan di terumbu karang maupun mangrove, yang sekaligus menjadi bahan makanan ikan itu sendiri.

“Salah satu faktornya kerusakan alam seperti mangrove. Karena itu bahan makan ikan di pantai,” terangnya.

Sementara itu, berdasarkan data dinas kehutanan  (Dishut) Kalsel, sekitar 400 kilometer panjang mangrove di banua ini sudah rusak dan beralih fungsi baik untuk Pelsus, ditebang masyarakat maupun untuk perkebunan.

Sementara, total panjang mangrove tersebut mencapai 1.500 kilometer, yang terbentang mulai dari pesisir Barito Kuala (Batola) hingga wilayah kabupaten Kotabaru.

“Berdasarkan catatan dan hasil pantauan kami bersama pak mentri (Menhut) beberapa waktu lalu, wilayah pesisir kondisinya sudah parah. Banyak lahan mangrove yang jadi kebun maupun Pelsus,” terang Kepala dinas kehutanan Kalsel, Suhardi.

Padahal, lanjut dia, kawasan tersebut dilindungi. Lantaran termasuk kawasan cagar alam, yang tidak bisa ditawa-tawar lagi penggunaannya. Hal itu berbeda dengan kawasan hutan, yang bisa dilakukan pinjam pakai.

Tak ayal, beberapa tahun terakhir ini pihaknya terpaksa menutup sejumlah Pelsus batu bara yang ada di berbagai wilayah khususnya di kawasan kabupaten Kotabaru maupun kabupaten Tanahbumbu.

“Sekitar 10 Pelsus yang sudah kami tutup karena masuk wilayah cagar alam. Hal itu tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s