Derita Warga Sekitar Tambang

Posted: January 30, 2011 in Sosial

“Ketenangan Kami Dirampas”

DERU suara knalpot yang meraung-raung menjadi hiburan setiap hari warga Sungai Danau kecamatan Satui Tanah Bumbu. Begitu juga dengan kepulan debu yang disapu kendaraan bermotor, menjadi tontotan hari-hari warga sekitar. Kedua hal tersebut sangat akrab menghiasi kehidupan warga desa setempat.

Itulah gambaran kehidupan warga sekitar tambang batu bara yang berlokasi di wilayah Satui atau sekitar 150 kilometer dari Batulicin, ibukota Tanah Bumbu. pemandangan kehidupan tersebut, menjadi santapan  warga yang tidak ada henti-hentinya dan sudah berlangsung puluhan tahun.

Sakir (45), salah satu dari ratusan warga yang tinggal di wilayah areal tambang emas hitam tersebut mengaku sedih melihat pemandangan yang menurutnya tidak mengenakan tersebut. Dia dan keluarganya, tidak bisa menikmati ketenangan hidup. Bahkan, tidurpun terasa tidak nyenyak karena bisingnya suara kendaraan yang tidak ada henti-hentinya berseliweran di depan rumahnya.

“Tinggal disini ini tidak ada ketenangan mas. Gimana bisa istirahat dengan tenang, kalau suara truk saja tidak pernah berhenti. Belum lagi ditambah debu yang hitam pekat, mana bisa sehat hidup disini,” keluhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dia baru bisa menikmatti istirahat malam jika kondisi badanya benar-benar capek. Sehingga deru suara knalpot dari iring-iringan truk pengangkut batu bara tidak terdengar lagi.

Jika tidak begitu, rata-rata setiap satu jam sekali dirinya terbangun. Karena dikejutkan dengan suara knalpot truk yang suarannya sangat keras yang melintas  di depan rumahnya.

“Bisa tidur dengan tenang kalau badan capek. Jadi begitu berebah langsung terlelap dan tidak dengar apa-apa lagi,” tukasnya.

Susahnya lagi jika memiliki anak balita. Selain tidak tenang, juga kondisi lingkungan sangat tidak memungkinkan. Bahkan, tiga anaknya pun saat ini diungsikan ke rumah sanak saudaranya di kampung. Dengan harapan bisa hidup dan belajar dengan tenang.

Selain suara kanlpot dan gulungan  debu yang hitam pekat saat musim kemarau, juga yang menambah penderitaan warga adalah masalah air untuk memenuhi kehidupan sehari-hhari. Menurutnya, setiap memasuki musim kemarau sumur yang ada di belakang rumahnya selalu kering.

“Kalau kemaru sudah pasti kering mas, makanya kami beli air yang diangkut kendaraan itu. Satu drum besar Rp 40 ribu bisa digunakan selama 4 hari,” paparnya.

Hal senada dikatakan warga lainnnya, Misra (35). Jika musim hujan, menurutnya juga snagat mengganggu. Karena kondisi jjalan yang becek dan licin. Sehingga susah utuk bepergian, lantaran licin dan berlumpur jjika dilalui kendaraan bermotor.

“Kalau mau jujur, tidak ada yang enak mas. Musim kemarau debunya luar biasa, sehingga baju setelah dicuci sudah kotor lagi. Begitu juga musim musim hujan, sangat becek,” katanya.

Disinggung adanya perhatian dari perusahaan tambang, menurut dia sebetulnya tidak sebanding dengan kehidupan yang dialami masyarakat. Bantuan yang diberikan perusahaan tersebut, tiadk setiap bulan diberikan. Dan itupun jumlahnya hanya minim, biasanya berupa kebutuhan pokok.

Kenapa masih bertahan di lingkungan tersebut, menurutnya dia mendiami lahan di kawasan itu sejak orangtuanya dulu dan berlangsung puluhan tahun silam.  Bahkan, sebelum adanya aktivvitas tambang tersebut,  dia sudah berada di wilayah itu.

“Beras yang diberikan kepada kami itu berapa banyak. Sangat tidak sebanding dengan ketenangan kami yang terusik. Kami bertahan disini lantaran ini tanah nenek moyang kami dulu,” ujarnya dengan nada tinggi.

Selain ketenangan warga yang terusik, keberadaan tambang batu bara juga “menyulap” kondisi lingkungan sekitar. Misalnya di wilayah Satui yang rata-rata berupa areal pegunungan dengan beragam tumbuhan, kini gunung tersebut sudah berkurang. Termasuk tanaman juga sudah minim.

Dari pantauan BPost, gunung-gunung tersebut kini berubah menjadi kawah buatan manusia. Yang terlihat hanya bekas galian tambang, baik yang masih aktif melakukan kegiatan, hingga yang sudah selesai dan dibiarkan terbuka hingga airnya berwarna biru dan kecoklat-coklatan.

Selain itu, jalan di wilayah tersebut rusak berat. Badan jalan banyak yang hancur akibat tidak kuat menahan beratnya kendaraan pengangkut hasil tambang yang melintas di jalan tersebut.

Karena jalan provinsi yang ada di wilayah tersebut dengan status kelas III dengan kekuatan beban sekitar 9 ton, harus dilalui ratusan truk yang mengangkut batu bara rata-rata seberat 10 ton setiap hari.

Belum lagi, truk tronton yang mengangkut alat berat dari areal tambang satu ke tambang lainnya, juga menggunakan jalur tersebut. Tak ayal, jalan rusak dan berlubang menjadi tantangan warga baik yang menuju wilayah Batulicin maupun ke Banjarmasin. Karena jalur tersebut, merupakan satu-satunya akses warga menuju ke ibukota provvinsi.

Kemudian, juga bahu-bahu jalan banyak yang tergerus oleh air hujan yang tidak terserap lagi oleh tanah karena diatasnya tidak ada lagi tanaman.

Bahkan, tidak heran jika beberapa desa seperti Jombang, Sungai Danau, Sekapuk di wilayah kecamatan Satui Tanah Bumbu tersebut menjadi langganan banjir. Terbukti selama tahun 2008, terjadi dua kali banjir yang merendam ratusan rumah penduduk di wilayah tersebut hingga menyebabkan warga tewas karena terseret arus banjir tersebut.

Karena tanah di wilayah tersebut, sudah tidak mampu lagi menyerap air yang timbul dari curah hujan tersebut. sehingga langsung menggenang dan merendam ruumah penduduk.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s