Media Tradisional Kalah Dengan Infotainment

Posted: January 30, 2011 in Berita

BANJARMASIN-Berita-berita selebritis yang disuguhkan media elektronik khususnya televisi secara realtime, secara berangsur-angsur mengancam kepunahan media tradisional seperti mamanda, madihin, balamut maupun wayang gong.

Bahkan saat ini sudah menggeser budaya dan media informasi lokal tersebut, yang sarat dengan nasehat dan petuah-petuah khususnya bagi anak-anak muda tersebut.

“Sekarang ini anak-anak muda kan lebih suka nonton infotainment dibandingkan nonton madihin maupun mamanda,” ujar komisioner KPID Kalsel, Fahrianoor, Kamis (22/7) kemarin.

Lebih lanjut dia menjelaskan, karena kesenian yang sekaligus sebagai media tradisional itu dianggap sebagai bentuk sajian yang ketinggalan zaman.

Karena, sejak zaman dulu alur cerita yang ada alam kesenian itu tidak berubah. Sehingga masyarakat bosan menyaksikannya. Apalagi, dibandingkan dengan suguhan berita-berita artis yang dikemas dengan baik.

Padahal, keberadaan kesenian itu sangat straegis menjadi penyambung antar generasi. Karena dalam kegiatan itu penuh dengan nasehat-nasehat yang diperlukan dan harus diteladani para generasi muda.

“Padahal itu kesenian, karena berfungsi sebagai penyambung komuniksi makanya disebut juga media tradisional lantaran adanya di Kalsel saja,” tandasnya.

Dia berharap, jika keseian yang juga media tradisional itu tetap lestari, para budayawan harus memikirkan untuk memberikan kemasan baru yang lebih baik lagi, agar mampu bersaing dengan infotainment tersebut.

Sementara itu, kegiatan bertajuk membangun kemitraan media dalam upaya pelestarian media pertunjukan rakyat tradisional yang digelar di Aula Dishub Kalsel berlangsung meriah.

Puluhan peserta baik dari kalangan budayawan, akademisi, media masa dan mahasiswa itu nampak serius mengikuti kegiatan yang menghadirkan dari KPID Kalsel yang diwakili Fahrianoor, sekretaris PWI Kalsel Zainal Helmie dan salah satu budayawan Kalsel, Sirajul.

Mereka menyoroti keberadaan kesenian yang selama ini menjadi media penyambung komunikasi tersebut secara lambat laun ditinggalkan generasi muda. Bahkan sudah mulai punah, terbukti sudah jarang dipentaskan.

Karena, tema yang ditampilkan dari waktu ke waktu tidak ada perubahan. Sehingga masyarakat bosan dan memilih media lain yang lebih asyik. Termasuk tontonan kartun yang terus membanjiri masyarakat Indonesia, termasuk Kalsel.***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s