Kasus Gula Ilegal P21

Posted: February 5, 2011 in Berita

– Segera dilimpahkan ke kejaksaan

BANJARMASIN, BPOST-Hampir dua bulan kerja keras penyidik Satreskrim Polresta Banjarmasin untuk melengkapi pemeriksaan gula rafinasi ilegal 3.750 ton membuahkan hasil. Kamis (13/1), berkas hasil pemeriksaan dinyatakan lengkap alias P21.

“Alhamdulillah, hasil pemeriksaan sudah dinyatakan P21 alias lengkap,” ujar Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Suhasto melalui Knait Tipiter, Aiptu Deny.

Padahal dalam kasus tersebut, penyidik harus membuat dua berkas pemeriksaan. Hal itu sesuai arahan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarmasin, yang meminta agar dijadikan dua berkas.

Yakni hasil penangkapan pada 2 November, yang hanya menemukan sekitar 100 karung dan pada 20 November, petugas berhasil mendapatkan 3.750 ton yang disimpan dalam 150 kontainer.

“Awalnya yang disidik petugas hanya penangkapan yang terakhir saja, ternyata Jaksa minta yang pertama itu juga ikut disidik. Makanya berkasnya menjadi dua,” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dokumen tersebut segera dilimpahkan ke kejaksaan negeri (Kejari) Banjarmasin yang bakal menjadi penuntut kasus tersebut.

Termasuk proses pelimpahan barang bukti berupa 3.750 ton gula rafinasi yang saat ini berada di interchange, terminal peti kemas Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Bahkan, imbuh Deni, pihak tersangka dalam hal ini Dirut PT Makasar Te’ne, Abuan juga sudah diberitahu. Surat pemberitahuan sudah dilayangkan pihaknya, untuk proses pelimpahan berkas perkara tersebut

“Kira-kira untuk pelimpahan barang bukti Senin lusa. Yang jelas pihak-pihak terkait sudah diberitahu untuk proses tersebut,” tandasnya.

Sekedar mengingat, jajaran unit Tipiter Satreskrim Polresta Banjarmasin berhasil mengamankan 3.750 ton gula rafinasi asal Makasar yang diangkut dengan kapal GUHI MAS MV yan bersandar di bibir Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, 20 November lalu.

Saat dilakukan pemeriksaan, gula yang disimpan dalam 150 kontainer tersebut ternyata tidak dilengkapi dengan dokumen pengiriman barang berupa SPP GRAP, seperti dalam Kepmen Perindag nomor 334 tahun 2004 yang merupakan penjabaran dari Kepres nomor 57 tahun 2004 menyatakan, bahwa gula termasuk barang kebutuhan masyarakat yang dalam pengawasan.

Artinya, semua distribusi maupun pengiriman barang tersebut harus dilengkapi dokumennya. Jika tidak ada dokumennya, maka barang tersebut dinyatakan ilegal.

Dalam kasus tersebut, penyidik telah memintai keterangan 11 orang saksi baik dari pihak perusahaan, distributor hingga Dirjen kementrian perdagangan dalam negeri dan pejabat pemprov Kalsel yang diajukan tersangka sebagai saksi yang meringankan alias adecarge.

Karena program pengiriman gula rafinasi itu dilakukan pemprov Kalsel dan distributor, untuk mencegah gejolak atau lonjakan gula pasir di Banua. Pemprov Kalsel melayangkan surat permohonan izin untuk mendatangkan gula rafinasi tersebut sebanyak seribu ton saja.

Namun berdasarkan data yang berhasil dihimpun BPost, distributor tersebut telah mendatangkan gula rafinasi melebihi dari permohonan itu. Bulan Juli lalu mendatangkan gula sebanyak 5.000 ton, bulan Agustus sebanyak dua tahap masing-masing sebanyak 4.750 ton dan 3.475 ton.

Kemudian bulan September juga mendatangkan gula sebanyak dua kali, sebanyak 6.900 ton dan 3.750 ton kemudian bulan Oktober sebanyak 3.750 ton dan yang terakhir dan langsung diamankan petugas sebanyak 3.750 ton.

Sehingga jika dijumlahkan, gula yang berhasil didatangkan sebanyak 27.625 ton oleh perusahaan gula rafinasi Makasar Te’ne dengan menggunakan pelayaran Tempuran Mas.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s