Sidang Perdana Kasus Gula Rafinasi

Posted: February 5, 2011 in Berita

– Abuan Mengakui Tidak Ada SPP GRAF

– Pemeriksaan saksi dan terdakwa

BANJARMASIN, BPOST-Sidang perdana kasus gula rafinasi yang menyeret Dirut PT Makasar Te’ne, Abuan Halim sebagai terdakwa menyedot perhatian. Sejumlah pegawai dan wartawan sejak pagi menunggu di PN Banjarmasin, tempat pelaksanaan sidang tersebut.

Agenda sidang perdana tersebut pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi sekaligus terdakwa. Ada 8 saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum, antara lain Benny Lesmana, Aftahudin, Wiliam Andrianto, Soni Susnato, Ahmad Aslam, Basuki, Endah dan Syamsir.

Abuan Halim yang didampingi penasehat hukumnya, Basofarudin terlihat tenang mengikuti jalannya persidangan yang berlangsung dua jam tersebut. Dia yang mengenakan kemeja motif garis-garis, berusaha memberikan jawaban majelis hakim yang dipimpin Amril SH.

Dia mengakui nekad mengirimkan gula sebanyak 3.750 ton yang tidak dilengkapi SPP GRAF tersebut karena persediaan gula di Kalsel sedang menipis. Mengingat, proses pengajuan izin yang diajukan pihaknya hingga pertengahan November tidak terbit.

“Kami mengurus dokumen itu sejak Agustus, tapi hingga November tidak kunjung terbit. Makanya kami nekad mengirimkan gula itu, karena stok di daerah sini habis dan terancam langka,” kilahnya.

Begitu juga dengan 7 saksi yang dihadirkan tersebut lebih banyak memberikan keterangan yang meringankan terdakwa. Mulai alasan penggunaan gula rafinasi hingga pengiriman yang belum lengkap dokumennya, semata-mata untuk kepentingan masyarakat.

“Majelis, di Kalsel ini tidak punya petani tebu dan pabrik gula. Untuk mengatasi kelangkaan dan ancaman lonjakan harga, asosiasi dan peprov membuat kebijakan penggunaan gula rafinasi itu,” ujar Aftahudin.

Suasana sidang sedikit tegang saat majelis hakim Amril mencecar pertanyaan kepada Kabid perdagangan dalam negeri, Endah soal pengiriman gula di Kalsel yang diamankan jajaran unit Tipiter Sat reskrim Polresta Banjarmasin.

Dalam keempatan tersebut, Endah mengaku tidak tahu kalau ada pengiriman gula yang dokumennya tidak lengkap. Dia berdalih selama ini tidak mendapatkan tembusan dari perusahaan rafinasi mengenai pengiriman dan kelengkapan dokumen.

“Katanya pengawasan, kok sampai tidak tahu ada pengiriman gula yang tidak dilengkapi dokumen,” kata Amril.

Sidang bakal dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan. Karena kasus tersebut masuk kategori pelanggaran tindak pidana ekonomi, sehingga proses sidang lebih cepat dibandingkan kasus lainnya.

Tidak Ada Alasan

Terkait usul lelang terhadap 3.750 ton gula rafinasi yang disimpan dalam 150 kontainer tersebut, mendapat bantahan kuasa hukum PT Makasar Te’ne, Basofarudin.

Menurutnya alasan lelang tersebut tidak tepat, karena barang tersebut ada pemiliknya dan saat ini ada dokumennya. Sehingga apapun alasannya kurang pas untuk dilelang.

“Gula yang diamankan Polresta itu bukan temuan, karena pemiliknya jelas dan ada dokumennya. Kalau mau disita untuk kepentingan negara, kan kurang pas,” katanya.

Termasuk pelanggaran yang dilakukan kliennya. Meski secara prosedur dan administrasi salah, yang dilakukan tersebut semata-mata menjalankan komitmen dan kepercayaan yang diberikan Pemprov Kalsel ke PT Makasar Te’ne untuk menyuplai gula.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s