Kalsel Harus Meninggalkan Batu Bara

Posted: February 8, 2011 in Berita

– Investasi bidang perkebunan atau infrastruktur

BANJARMASIN, BPOST-Batu bara yang menjadi primadona Kalsel sudah mulai berkurang. Sehingga saat ini saat yang tepat untuk mulai meninggalkan batu bara sebagai investasi utama, mengingat kekayaan alam tersebut tidak bisa diperbaharui.

Hal itu diungkapkan Kepala badan kordinasi penanaman modal (BKPM) pusat, Gita Wirjawan akhir pekan lalu. Menurutnya, jika Kalsel tetap mengandalkan batu bara sebagai investasi dan pendapatan semata maka tidak menutup kemungkinan akan tertinggal dengan daerah lain.

“Jangan terlalu menggantungkan pada kekayaan alam seperti batu bara maupun kayu. Kalau habis, tidak bisa diperbaharui lagi,” terangnya.

Bahkan dirinya merasa miris dengan kondisi Kalsel, yang selalu diwarnai byarpet. Kenyataan tersebut tidak sebanding dengan kekayaan alam berupa batu bara yang melimpah.

Hal itu menunjukkan pengelolaan kandungan perut bumi, bukan jaminan membawa kemaslahan bagi masyarakat. Apalagi jika pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik.

“Selama dalam perjalanan dari bandara kami tidak habis pikir. Kalsel yang terkenal punya batu bara kok bisa listriknya byarpet,” katanya.

Oleh karena itu, terang Gita, Kalsel harus berani memulai untuk mengembangkan investasi dalam bidang lain seperti perkebunan, pertanian maupun infrastruktur. Karena masih luas lahan yang kosong di daerah ini.

Hal senada dikatakan Gubernur Rudy Ariffin. Dia mengakui, pengelolaan tambang ternyata tidak terlalu berdampak baik bagi masyarakat. Utamanya masalah lingkungan hidup.

“Warga yang tinggal di sekitar lokasi tambang, justru banyak yang kondisinya memprihatinkan,” urainya.

Termasuk yang dialami Kalsel. Jumlah produksi batu bara banua ini sebesar 70 juta ton per tahun. Namun, jumlah tersebut lebih banyak diangkut ke luar daerah dan luar negeri. Sehingga bukan untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah.

Masih menurut Rudy, sudah beberapa tahun ini pemprov Kalsel sudah mulai mengembangkan sektor pertanian da perkebunan. Selain untuk mempertahankan sebagai lumbung pangan nasional, juga untuk mendukung penghasilan masyarakat.

Begitu juga dengan perkebunan, seperti karet dan sawit. Apalagi jumlah ekspor karet tahun 2005 mencapai 11 juta ton. Kemudian tahun 2006 sebesar 49 juta ton, tahun 2007 sebesar 70 juta ton.

Namun, tahun 2008 bersamaan goncangan krisis global, besar ekspor karet di Kalsel mengalami penurunan yakni hanya sebesar 63 juta saja, dan tahun 2009 juga menurun menjadi 33 juta ton.

Adapun luas perkebunan karet di banua ini sebesar 200 ribu hektar yang tersebar di berbagai daerah seperti kabupaten Tanahbumbu, Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, dan beberapa daerah lainnya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s