Kandungan Arsenik Tidak Ditemukan Lagi

Posted: February 8, 2011 in Berita

– Ponpes Darusalam ekoli cukup tinggi

BANJARMASIN, BPOST-Operasi penertiban tambang liar yang dilakukan tim terpadu, jajaran Kepolisian dan dinas kehutanan (Dishut) Kalsel ternyata hanya mampu menekan kandungan arsenik dalam air di Sungai Barito dan Martapura.

Berdasarkan hasil pemeriksaan air yang dilakukan badan lingkungan hidup daerah (BLHD) Kalsel April lalu, kandungan logam berat lainnya, seperti besi, mangan, raksa dan seng yang diduga berasal dari penambangan liar masih menghiasi kandungan air di dua sungai tersebut.

“Dari 21 titik pantau di Sungai Barito dan Martapura, kandungan arseniknya yang sudah tidak ada lagi. Dipastikan, itu salah satu manfaat razia yang dilakukan petugas beberapa waktu lalu,” terang Kepala BLHD Kalsel, Rakhmadi Kurdi, Kamis (24/6).

Arsenik merupakan jenis logam berat yang biasa digunakan masyarakat melakukan penambangan emas maupun intan. Sehingga, jika bekas buangan tersebut langsung ditumpahkan ke aliran anak sungai, maka langsung menimbulkan pecemaran.

Seperti beberapa waktu lalu, kegiatan pertambangan liar marak di kawasan Tahura yang alirannya masuk ke Sungai Martapura dan perbatasan wilayah Kalseng dengan Kalteng, yang merupakan bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.

Tak ayal, hasil pengujian yang dilakukan BLHD akhir Desember 2009 lalu banyak ditemukan kandungan logam berat seperti arsenik, mercuri maupun besi dalam air di dua sungai tersebut.

“Jelas sekali bedanya, kalau kemarin kandungan arsennya masih tinggi. Tapi setelah ada razia, dari hasil pengujian itu tidak ada lagi arsennya,” terang Rakhmadi.

Sayangnya beberapa jenis logam berat lainnya masih ada dalam air. Termasuk tingkat kekeruhan yang masih cukup tinggi di Hulu Sungai Martapura.

Kemudian peningkatan air raksa yang melebihi baku mutu 0,001 mmg yang berada di semua sungai, kandungan besi di Sungai Barito dan Martapura, maupun seng serta mangan.

Dampak air raksa yang melebihi baku mutu tersebut, bisa berdampak pada minamata alias gangguan pada otak motorik manusia. Namun jika kelamaan, bisa menimbulkan racun dan penyakit.

“Kalau logam berat lainnya masih ada. Itu bisa timbul karena kandungan tanah atau lumpur di sungai itu sendiri,” tukasnya.

Meski begitu, lanjur Rakhmadi, kesimpulan dari hasil pengujian air yang mengambil sampel 21 lokasi tersebut kondisi Sungai Martapura dan Barito masih pencemarannya masih tinggi dan sangat berbahaya.  Hasil pengujian akhir 2009 lalu, tingkat pencemarannya sangat parah. Karena air di Barito mengandung logam berat seperti mercury yang sudah melebihi baku mutu yakni sebesar 0,4855. Sedangkan standrt normal hanya 0,001.

Kemudian mengandung seng, arsenik, maupun besi. Zat-zat tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi masyarakat secara terus menerus. Zat kimia tersebut diduga berasal dari pembuangan limbah tambang ke aliran sungai.

Sementara itu, Ketua Walhi Kalsel Hegar Wahyu Hidayat berharap agar operasi penertiban terhadap tambang-tambang ilegal tersebut dilakukan secara rutin.

“Jangan hanya setelah diketahui masyarakat menimbulkan pencemaran langsung dirazia. Seharusnya, dilakukan secara terus meneru. Karena selain menimbulkan pencemaran juga merusakan lingkungan,” terangnya.

Di ajuga berharap kepada tambang-tambang besar, untuk diawasi pengelolaan limbahnya. Karena tidak menutup kemungkinan juga melakukan kesalahan, terbukti sudah beberapa kasus jeblolnya penampungan limbah tambang yang merusakan lingkungan sekitar.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s