Mahasiswa Datangi Kantor Panwasda

Posted: February 8, 2011 in Berita

“Hanya Seperti Hakim Garis Saja”

BANJARMASIN, BPOST-Sekitar 20 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Banjarmasin mendatangi kantor pengawas Pemilukada di Jalan Pramuka kelurahan Pengambangan Banjarmasin, Senin (7/6) siang.

Sengatan sinar matahari yang terasa membakar kulit, tidak menyurutkan semangat para pengagung ilmu pengetahuan itu. Kehadiran mereka, mempertanyakan kinerja Panwas Pemilukada, yang terkesan diam dengan maraknya aksi money politic yang mencederai pesta demokrasi.

Alek, salah satunya. Mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin, yang aktif dalam Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) menyayangkan kinerja Panwas yang belum menunjukkan kinerjanya secara maksimal.

Terbukti, selain masih marak sisa-sisa baliho maupun stiker, juga tidak memberikan teguran adanya DPT yang tidak diumumkan di salah satu daerah.

“Kerja Panwas itu apa, buktinya sampai saat ini masih banyak alat-alat peraga kampanye yang masih nampang dan dibiarkan begitu saja,” katanya.

Hal senada dikatakan demonstran lainnya. Para anggota Panwas yang dibiayai dengan APBD yang mencapai Miliaran rupiah itu, terkesan tutup mata dengan praktik-praktik money politic yang sangat terbuka dan terang-terangan.

Apalagi dari sejumlah kasus tersebut, tak satupun yang berhasil diamankan Panwas yang memiliki jumlah pasukan 68 orang yang tersebar hingga ke tingkat kelurahan tersebut.

“Saya pikir pernyataan kami tidak berlebihan jika Panwas hanya diam dan tutup mata dengan pelanggaran Pemilukada kali ini. Moneypolitic dilakukan dengan terang-terangan, namun tak satupun yang berhasil ditangani Panwas,” teriak salah seorang mahasiswa.

Tak heran jika muncul desaan agar Panwas dibubarkan saja. Karena meski dibiayai dengan uang pemerintah, tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Bahkan hanya mirip dengan hakim garis dalam sepak bola saja.

Sementara itu, Ketua Panwas kota Banjarmasin Arif Sri Wiyana mengakui jika kinerjanya selama ini belum maksimal. Bahkan terkesan tidak ada manfaatnya. Karena, apa yang dilakukan itu harus mengacu pada aturan perundang-undangan.

“Kalau dikatakan tidak ada artinya memang iya. Tapi itulah aturan yang menjadi dasar dan pegangan kami menjalankan tugas,” terangnya.

Jika dituntut bekerja yang lebih, lanjut Arif, harus peraturan tersebut diubah. Karena selama peraturan itu belum direvisi, maka peran dan kerja Panwas hanya seperti itu.

Setelah berdialog dengan ketua Panwas, para mahasiswa membubarkan diri dan kembali ke kampus dengan jalan kaki.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s