Menyulap Eks Lapangan Kamboja Multi Fungsi

Posted: February 8, 2011 in Berita

– Tempat baca, santai dan pertunjukan

BANJARMASIN, BPOST-Tempat santai dan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi dambaan dan impian semua masyarakat Banjarmasin. Mengingat kota yang memiliki slogan seribu sungai ini, masih tergolong ‘miskin’ tempat seperti itu.

Tak ayal, banyak warga yang menjadikan pusat-pusat perbelanjaan atau mall sebagai pilihan utama untuk refreshing dan santai bersama keluarga. Lantara, di kota ini masih minim tempat santai yang teduh nan alami.

Terbukti jika musim libur tiba, atau akhir pekan. Semua pusat perbelanjaan, selalu dipadati warga. Meskipun kehadiran mereka hanya sekadar jalan-jalan dan santai, untuk melepas rasa jenuh setelah 5 hari beraktifitas.

“Mau kemana lagi bawa anak santai kalau tidak ke Duta Mall. Mau rekreasi ke Jawa maupun ke Bandung yang tempatnya sejuk, ya perlu biaya banyak,” kata nyonya Mitha.

Keluhan tersebut sangat beralasan. Karena di kota ini belum memiliki tempat yang rerpresentatif untuk santai. Kebun binatang PKK di Jahri Saleh, kondisinya juga kurang terawat. Begitu juga di taman maskot, sehingga kurang maksimal untuk santai.

Meskipun pemerintah kota Banjarmasin telah berkomitmen menjadikan eks Lapangan Kamboja seluas 4,3 hektar itu sebagai RTH, yang berfungsi tempat pertunjukan, santai bersama keluarga hingga tempat membaca. Namun hal itu bisa dinikmati masyarakat sekitar 2011 nanti.

Saat ini, mega proyek yang menelan biaya sebesar Rp 11 Miliar untuk menyulap lahan bekas kuburan itu sudah mulai. Hilir mudik puluhan truk pengangkut tanah untuk pengerasan lahan, mewarnai Jalan Anang Adenansi.

Pembangunan ruang terbuka hijau yang pencanangannya dihadiri Menko Perekonomian Hatta Radjasa itu, diharapkan bisa menjadi pilihan alternatif masyarakat Banjarmasin untuk bersantai bersama keluarga.

Selain itu, juga untuk memenuhi persyaratan kota yang harus menyediakan sekitar 30 persen lahannya untuk hutan kota dan ruang terbuka hijau.

“Harapan pemerintah kota, masyarakat kalau liburan tidak harus ke mall atau ke luar Banjarmasin. Tapi cukup di kota saja, karena di tempat itu akan menjadi pusat beragam kegiatan,” ujar Kepala dinas kebersihan dan pertamanan kota Banjarmasin, Syaidin Noor.

Sesuai master plan, pembangunan RTH yang dananya bersumber dari APBN dan APBD kota itu dibagi menjadi 5 blok. Meliputi, taman baca, area pertunjukan atau pameran, tempat olahraga, air mancur, serta hutan kota yang berisi aneka tanaman langka.

Diharapkan, selain menjadi sarana bermain dan berolahraga juga menjadi tempat pendukung penelitian para mahasiswa. Karena, untuk melakukan penelitian tidak perlu masuk hutan lagi, sebab di RTH tersebut sudah tersedia tanaman langka.

Masih menurut Syaidin Noor, saat yang sudah mulai dikerjakan di blok A berukuran 800 meter persegi yang berada di ujung timur lapangan tersebut dengan total biaya sebesar Rp 4,5 Miiar. Dengan melakukan pengurukan untuk meninggikan kawasan itu, guna pembangunan paving.

“Meski dibagi beberapa blok, nanti pengerjaannya menyambung. Saat ini yang sudah mulai dikerjakan blok A, yang dananya dari pemko Rp 2 Miliar dan dari pusat Rp 2,5 Miliar. Sehingga sisanya masuk anggaran tahun depan,” terangnya.

Dilarang Jualan

Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) menjadi PR tersendiri bagi pemerintah. Begitu juga dengan PKL yang ada di kawasan Jalan Anang Adenansi, sekitar eks Lapangan Kamboja tersebut.

Meski di sepanjang kawasan tersebut dipasangi kawat berduri, tidak membuat menyurutkan semangat para pedagang untuk mengais rezeki di tempat itu. Mengingat, sampai saat ini menjadi pusat keramaian.

Menurut Kepala dinas kebersihan dan pertamana kota, Syaidin Noor, jika pembangunan RTH tersebut sudah rampung, maa PKL tersebut dilarang berjualan di kawasan itu. Apalagi, di tempat itu bukan tempat untuk jualan.

“Sesuai Perda, itu kawasan yang tidak diperbolehkan untuk jualan. Karena di sekitar itu ramai warga, otomatis kan tumbuh para PKL,” katanya.

Ditanya bakal dipindah kemana, mantan kepala dinas pariwisata itu enggan memberikan jawaban. Karena mengenai tempat pemindahan tersebut, harus dibahas dalam tim yang melibatkan beberapa instansi seperti Satpol PP, dinas pasar maupun bagian pemerintahan.

Sesuai desain yang ada, sekitar kawasan itu bebas PKL. Namun dioptimalkan lokasi parkir yang dikelola secara khusus, untuk menjaga ketertiban kota dan kenyamanan warga yang berkunjung di RTH tersebut.

“Kita mencoba mengadopsi taman Menteng Jakarta. Disana yang dikelola parkirnya dengan rapi, sehingga nyaman untuk santai. Kawasan itu juga tetap terjaga kebersihannya karena tidak ada PKL,” tukasnya.

Rencana larangan berjualan di sekitar kawasan eks Lapangan Kamboja tersebut ditanggapi santai para pedagang. Bagi mereka, pemberlakuan itu masih lama. Sehingga masih ada kesempatan bagi mereka untuk mengumpukan uang sebanyak mungkin untuk mencari tempat yang baru.

“Kan masih lama juga, jadi tidak apa-apa. Siapa tahu, nantinya rencana itu tidak dilaksanakan,” kata pedagang sambil tertawa.

Mereka berharap tetap diperbolehkan jualan di seberang jalan. Dengan begitu, masih bisa mendapatkan rezeki dari warga yang datang ke tempat itu, meski harus rela menyeberang jalan terlebih dahulu.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s