Peraih Abdi Persada Lingkungan

Posted: February 8, 2011 in Berita

“Kini Tidak Lagi Mengangkut Air”

WAJAH Suroso (50), terlihat sumringah. Penampilannya sangat sederhana. Warga Desa Pakuntik kecamatan Sungai Pinang itu, mengenakan baju batik motif kotak-kotak warna kuning dipadu celana kain warna hitam plus sepatu kulit hitam.

Pria berkumis tebal itu berangkat dari rumahnya pagi-pagi buta menuju kantor gubernur Kalsel di Jalan Jenderal Sudirman, Senin (7/6) kemarin. Bapak dua anak itu akan menerima penghargaan dari gubernur Rudy Ariffin karena terpilih sebagai Abdi Persada lingkungan tahun 2010.

“Tadi berangkat dari rumah pagi sekali mas, takut terlambat karena disuruh ikut upacara untuk menerima penghargaan,” katanya mengawali pembicaraan.

Bahkan baru pertama kali ini pria kelahiran 31 Desemeber 1960 itu menginjakkan kakinya di kantor gubernur Kalsel tersebut. Tak heran, jika untuk mencari kantor orang nomor satu tersebut dirinya harus bertanya beberapa kali.

Ata dedikasinya terhadap lingkungan tempat tinggalnya, yang sudah dijalaninya selama 16 tahun itulah yang mengantarkan dirinya untuk mendapatkan piala penghargaan Abdi Persada Lingkungan dan uang sebesar Rp 1 juta.

Awal dirinya bertempat tinggal di Desa Pakuntik tersebut, kondisinya sangat gersang. Selain wilayahnya pegunungan dan bekas pertambangan, untuk mencari air di desa tersebut sangat jauh.

Untuk mencukupi keperluan hidup sehari-hari baik untuk memasak, mandi dan mencuci pakaian, dirinya dan para warga lainnya harus rela mengangkut air dari salah satu mata air yang berjarak sekitar 2 kilometer dengan menakhlukan tiga gunung.

“Dulu kalau mau mandi harus mengangkut air dulu dari sumber yang jaraknya sangat jauh dengan melewati gunung dan tebing,” kenangnya.

Apalagi jika musim kemarau sangat kesulitan untuk mendapatkan air tersebut. Selain berada di pegunungan, kawasan tersebut juga untuk pertambangan. Sehingga tidak ada pepohonan yang menjadi penyangga sumber mata air.

Keadaan yang menyiksa tersebut membuat dirinya putar otak. Dirinya berusaha mengalirkan mata air tersebut ke perkampungan yang posisinya lebih rendah.

“Aliran air itu kamibendung dengan karung yang berisi pasir, dan dialirkan ke kampung dengan melintasi tiga gunung yakni Tander Pisau, Tandui dan Asahan,” tukasnya.

Upayanya itu membuahkan hasil. Sudah 16 tahun ini, sekitar 300 warga yang tinggal di kampung tersebut tidak kesulitan air. Bahkan musim kemarau pun masih bisa mendapatkan air dengan mudah.

Sehingga air tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk pertanian dan perikanan seperti kerambah, untuk menopang keperluan hidup sehari-hari.

Selain berhasil membuat saluran air, Suroso dengan jerih payahnya juga berhasil melakuka penanaman pohon di areal bekas pertambangan dnegan tanaman karet.

“Kami menanam sekitar 6 ribi karet dnegan biaya sendiri. Dan saat ini diikuti warga lain, karena hasilnya sangat lumayan,” urainya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s