Produksi Lebih, Tapi Harga tetap Mahal

Posted: February 8, 2011 in Berita

– Banyak dikirim ke luar provinsi

BANJARMASIN, BPOST-Melonjaknya harga beras lokal seperti siam unus di Kalsel beberapa hari terakhir ini membuat resah warga. Karena, kenaikan harga tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan kenaikan yang sudah terjadi beberapa tahun silam.

Zulaikah (30), salah satunya. Warga Kelayan A Banjarmasin itu mengaku bingung dengan tiba-tiba naiknya harga beras lokal tersebut. Sementara, dirinya maupun anggota keluarga lainnya tidak biasa mengkonsumsi beras lain.

“Kami bingung, kenapa naiknya kok tinggi sekali. Tapi apa boleh buat, meski naik tetap kami beli. Karena tidak biasa makan beras lain,” katanya.

Dari pantauan BPost di sejumlah pasar beras seperti di wilayah Kelayan maupun di Jalan Veteran mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Untuk jenis beras siam unus harganya berkisar antara Rp 7 ribu hingga Rp 7.700 per kilogram. Sebelum ada kenaikan, harga beras tersebut hanya sebesar Rp 6 ribu saja.

Selain itu, untuk jenis siam harganya berkisar Rp 4.500 hingga Rp 5.700 per kilogram. Unus mayang harganya Rp 9.500, unus mutiara Rp 7 ribu hingga Rp 7.500, beras cianjur Rp 6 ribu dan ciherang Rp 5.500 per kilogramnya.

“Sudah 2 minggu naik harganya naik terus. Katanya persediaan beras lokal tinggal sedikit, kecuali nanti kalau sudah panen,” kata salah seorang pedagang beras.

Sementara itu, menurut hasil penelitian badan ketahanan pangan Kalsel, kenaikan harga beras tersebut bisa ditimbulkan akibat ketersediaan bahan pangan. Meskipun berdasarkan data, produksi beras di Kalsel sejak 7 tahun ini surplus yang cukup besar.

“Sejak tahun 2003 hingga sekarang ini surplus terus. Bahkan tahun 2009, juga masih surplus 544.507 ton. Dan tahun ini diprediksi juga surplus sebesar 628.616 ton,” kata salah seorang peneliti Raihani Wahdah dalam coffee morning, Rabu (30/6) kemarin.

Menurutnya kenaikan harga beras tersebut bisa disebabkan sistem distribusi. Artinya dari kawasan penghasil, belum tersalurkan hingga ke pasar-pasar.

Hal senada dikatan peneliti muda dari Balitbangda pemprov Kalsel, Lisda Noorhijatil Husna. Berdasarkan hasil penelitian, banyak produksi beras lokal yang dikirim ke luar provinsi, seperti Kalimantan Tengah (Kalteng), Surabaya maupun Jakarta.

Dia mencontohkan, salah satu produksi padi di Barabai setiap minggunya mengirimkan beras ke Sampit sebanyak 3 truk per minggu. Kemudian ke Palangkaraya sebanyak 4 truk per minggu.

“Belum lagi yang ke urabaya dan Jakarta. Beras lokal sebagai bahan baku pembuatan mihun,” terangnya.

 

Dia juga menyinggung, ketersediaan lahan pertanian di Kalsel juga mengalami pengurangan. Sejak tahun 2007 lalu lahan pertanian mengalami alih fungsi sebanyak 903 ribu hektar. Baik untuk perumahan, perkebunan maupun lahan sawit.

“Makin lama ketersediaan lahan pertanian berkurang terus. Termasuk lahan-lahan subur juga mengalami alih fungsi,” tukasnya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s