Sungai Martapura Bakal Menyerupai Singapura

Posted: February 8, 2011 in Berita

– Proses pembangunan terganjal pedagang

BANJARMASIN, BPOST-Warga Banjarmasin yang ingin santai bersama keluarga sambil menikmati indahnya panorama sungai, tidak perlu pergi jauh-jauh ke Hongkong, Singapura maupun Macau. Karena, bantaran Sungai Martapura bakal disulap menyerupai kota tersebut.

Apalagi keberadaan sungai yang membelah kota Banjarmaisn itu masih perawan. Sehingga menambah elok panorama tersebut, baik saat dinikmati siang maupun sore hingga malam hari.

Untuk mewujudkan water front city tersebut, dinas pengelolaan sungai dan drainase kota Banjarmasin sudah melakukan start dengan membangun siring yang berada di Jalan Piere Tendean Banjarmasin.

Saat ini, pembangunan siring tersebut mencapai 437 meter dari total panjang bantaran tersebut mencapai 637 meter, dengan menelan biaya sebesar Rp 9,5 Miliar yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Sehingga sisa bantaran yang belum disiring sekitar 200 meter ke arah jembata Pasar Lama. Sesuai rencana, pembangunan itu akan dilanjutkan pada tahun 2010 ini dengan bantuan APBN.

“Dari Jembatan Merdeka sampai saat ini suda mencapai 437 meter dan sisanya akan dilanjutkan tahun ini juga,” terang Kepala dinas pengelolaan sungai dan drainase kota Banjarmasin, Muryanta.

Sayangnya, untuk melanjutkan pembangunan siring tersebut pemko Banjarmasin terganjal dengan adanya sekelompok pedagang yang mangkal di atas bantaran sungai tersebut.

Para pedagang yang merupakan pindahan dari Jalan Jenderal Sudirman tersebut, ngotot akan tetap berjualan di atas siring jika areal mereka tetap digusur pemerintah untuk melanjutkan pembangunan tersebut.

Sesuai desain yang pernah diekspos dinas sunungai dan drainase, sepanjang bantaran Sungai Martapura yang ada di kawasan Jalan Piere Tendean bakal dibangun tempat santai para warga sambil menikmati panorama sungai.

Selain itu, juga dibangun dermaga kapal untuk melayani warga yang ingin keliling kota Banjarmasin melalui jalur sungai, maupun berwisata ke Pasar Terapung.

Kawasan tersebut juga sangat representatif sebagai tempat wisata. Dua buah rumah kuno berlantai dua, yang merupakan perpaduan adat Banjar dan Cina tetap dipelihara. Dua bangunan tersebut, bakal dijadikan museum Banjar maupun kantor informasi wisata.

“Rumah itu harus dipertahankan. Karena seluruh ornamennya khas Banjar, yang dikombinasi dengan khas Cina lantaran pemilik rumah itu merupakan warga keturunan,” pinta budayawan Kalsel, Suriansyah.

Tempat Kongkow

Meski proses pembangunan siring di Piere Tendean belum rampung, karena belum ada pagar pengaman, namun sudah dimanfaatkan masyarakat untuk jualan jagung bakar. Sekitar 40 pedagang, setiap sore mangkal di kawasan tersebut dengan memanfaatkan siring yang dalam proses finishing tersebut.

Tak heran, setiap sore kawasan Piere Tendean menjadi pusat kongkow para kawula muda banua. Mereka duduk santai beralasakan tikar dan koran sambil menikmati panorama sungai sambil makan jagung bakar yang dijajakan para pedagang di kawasan tersebut.

“Soalnya di kota ini kan belum ada tempat nongkrong yang nyaman. Jadi meski belum sempurna, tapi masih bisa dimanfaatkan,” ujar Novri.

Meski pembangunan siring tersebut belum sempurna, Novri bersama temannya cukup menikmati. Karena, siring tersebut merupakan salah satu tempat snatai selain water front city yang ada di Jalan Jenderal Sudirman.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s