Terpaksa Bikin Terumbu Karang Buatan

Posted: February 8, 2011 in Berita

– Banyak diambil warga dan rusak

BANJARMASIN, BPOST-Sekitar 1.500 hektar terumbu karang di wilayah pantai Kalimantan Selatan (Kalsel) kondisinya rusak. Baik dicuri masyarakat, maupun kawasan tersebut beralih fungsi dan dimanfatkan untuk pelabuhan khusus.

Hal itu berdampak pada menurunnya jumlah tangkapan ikan para nelayan. Karena keberadaan terumbu karang tersebut, menjadi tempat pembiakan ikan. Termasuk menjadi tempat singgah para ikan di laut.

“Yang jelas hasil tangkapan ikan para nelayan mengalami penurunan. Karena tempat berkembangbiaknya ikan, kondisinya sudah rusak,” ujar Kepala dinas perikanan dan kelautan Kalsel, M Isra.

Adapun produksi ikan di Kalsel, saat ini mencapai 36 kilogram per kapita. Jumlah tersebut melebihi produksi ikan tingkt nasional yang hanya mencapai 26 kilogram per kapita.

Namun, jika kerusakan terumbu karang tersebut tidak segera diperbaiki, tidak menutup kemungkinan bakal semakin parah. Tentu, jumlah tangkapan ikan para nelayan juga bakal berkurang.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, terang Isra, pihaknya terpaksa melakukan perbaikan dengan membuat terumbu karang palasu alias buatan. Dengan harapan, bisa dimanfaatkan ikan untuk berkembang biak.

“Kami akan membuat terumbu karang untuk menggantikan yang alami yang sudah rusak maupun diambil warga,” terangnya.

Ditanya kawasan yang rusaknya paling parah, menurutnya di wilayah perairan Kotabaru dan Tanahbumbu. Tapi yang paling luas di wilayah Kotabaru.

Karena di kawasan tersebut, banyak bermunculan pelabuhan khususbatu bara yang berada di tepian pantai. Sehingga tanpa memperhatikan aspek tersebut, investor langsung melakukan pembangunan.

Selain terumbu karang, ekosistem yang rusak adalah soal mangrove. Padahal, keberadaan mangrove juga membantu nelayan untuk mendapatkan ikan dalam jumlah besar.

“Selain terumbu karang, mangrove yang ada di pantai Kalsel juga banyak yang rusak,” urainya.

Berdasarkan catatan dinas kehutanan  (Dishut) Kalsel, sekitar 400 kilometer panjang mangrove di banua ini sudah rusak dan beralih fungsi baik untuk Pelsus, ditebang masyarakat maupun untuk perkebunan.

Sementara, total panjang mangrove tersebut mencapai 1.500 kilometer, yang terbentang mulai dari pesisir Barito Kuala (Batola) hingga wilayah kabupaten Kotabaru.

“Berdasarkan catatan dan hasil pantauan kami bersama pak mentri (Menhut) beberapa waktu lalu, wilayah pesisir kondisinya sudah parah. Banyak lahan mangrove yang jadi kebun maupun Pelsus,” terang Kepala dinas kehutanan Kalsel, Suhardi.

Padahal, lanjut dia, kawasan tersebut dilindungi. Lantaran termasuk kawasan cagar alam, yang tidak bisa ditawa-tawar lagi penggunaannya. Hal itu berbeda dengan kawasan hutan, yang bisa dilakukan pinjam pakai.

Tak ayal, beberapa tahun terakhir ini pihaknya terpaksa menutup sejumlah Pelsus batu bara yang ada di berbagai wilayah khususnya di kawasan kabupaten Kotabaru maupun kabupaten Tanahbumbu.

“Sekitar 10 Pelsus yang sudah kami tutup karena masuk wilayah cagar alam. Hal itu tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s