400 Kilometer Mangrove Jadi Pelsus

Posted: February 12, 2011 in Berita

– Ancaman abrasi semakin tinggi

BANJARMASIN, BPOST-Ancaman gerusan lahan (Abrasi) di wilayah Kalimantan Selatan semakin parah. Pasalnya, sekitar 400 kilometer dari 1.500 kilometer kawasan mangrove yang menjadi pelindung ancaman abrasi sudah berubah fungsi baik menjadi pelabuhan khusus (Pelsus) maupun perkebunan.

“Berdasarkan catatan dan hasil pantauan kami bersama pak mentri (Menhut) beberapa waktu lalu, wilayah pesisir kondisinya sudah parah. Banyak lahan mangrove yang jadi kebun maupun Pelsus,” terangnya.

Padahal, lanjut dia, kawasan tersebut dilindungi. Lantaran termasuk kawasan cagar alam, yang tidak bisa ditawa-tawar lagi penggunaannya. Hal itu berbeda dengan kawasan hutan, yang bisa dilakukan pinjam pakai.

Tak ayal, beberapa tahun terakhir ini pihaknya terpaksa menutup sejumlah Pelsus batu bara yang ada di berbagai wilayah khususnya di kawasan kabupaten Kotabaru maupun kabupaten Tanahbumbu.

“Sekitar 10 Pelsus yang sudah kami tutup karena masuk wilayah cagar alam. Hal itu tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

Sayangnya, Suhardi tidak menjelaskan secara rinci Pelsus yang ditutup tersebut. Namun menurutnya, dari jumlah tersebut mayoritas di wilayah Kotabaru dan Tanahbumbu yang paling banyak memiliki areal pertambangan.

“Yang banyak ya di Tanahbumbu dan Kotabaru. Kalau kita naik pesawat akan kelihatan, peisisr sungai sudah rusak semua,” tandasnya.

Selain untuk Pelsus dan perkebunan, pohon mangrove tersebut juga banyak ditebang masyarakat untuk keperluan rumah tangga, seiring dengan makin menipisnya jenis kayu di Kalse.

Untuk mengurangi kerusakan tersebut, pihaknya secara bertahap melakukan penanaman kembali pohon mangrove tersebut. Hasil dari penanaman tersebut, bisa dirasakan beberapa tahun kemudian.

Hal senada dikatakan Kepala badan lingkungan hidup daerah (BLHD) Kalsel, Rakhmadi Kurdi. Dengan rusaknya kawasan mangrove yang membentang mulai Marabahan hingga Kotabaru yang panjangnya lebih 1.500 kilometer itu, tidak ada lagi penahan gempuran ombak sungai yang mengikis lahan.

“Dampak yang dirasakan, lahan semakin terkikis. Karena gempuran ombak tidak ada lagi penahannya,” tukasnya.

Selain itu, hasil tangkapan nelayan juga berkurang. Karena tempat berkembangnya ikan-ikan lokal tidak ada lagi. Termasuk, daun-daun mangrove yang menjadi makanan ikan juga berkurang.

“Nelayan juga merasak hal itu. Karena mangrove yang bisa menjadi tempat penetasan ikan secara alami juga berkurang,” urainya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s