Bekantan Itu Tidak Bergelantungan Lagi

Posted: February 12, 2011 in Berita

– Hutan mangrive jadi sawah

BANAJRMASIN, BPOST-Bekantan yang merupakan satwa khas Kalimantan Selatan (Kalsel), populasinya sudah terancam punah. Karena, tumbuhan rumbia yang menjadi makanan pokoknya, saat ini sudah berkurang karena adanya penebangan maupun berubah fungsi menjadi lahan pertanian.

Seperti yang terlihat di Pulau Kaget kabupaten Batola. Pulau seluas 65 hektar yang dikenal menjadi tempat tinggal kera berhidung mancung itu, sudah tidak dijumpai lagi bekantan yang menjadi maskot urang banua itu.

Dari pantauan BPost, Selasa (11/5), hutan mangrove berjenis rumbia itu sudah berubah fungsi. Pulau yang berada di bantaran Sungai Barito itu, sudah ditebang masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian.

Bahkan, pohon rumbia tersebut hanya sisa sedikit yang berada di bantaran sungai saja. Sisanya sudah habis dan menjadi tanaman padi, yang terlihat baru saja ditanam.

Tak ayal, selama 3 jam menunggu di pulau tersebut tak seekorpun bakantan yang terlihat di kawasan tersebut. Dipastikan keberadaan hewan tersebut, sudah pindah ke tempat lain yang memiliki cadangan makanan lebih banyak.

“Disini tidak ada lagi bekantan, yang masih sering terlihat di pulau sebelah itu,” ujar Samsudin, salah satu petani di Pulau Kaget.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebelum menjadi sawah pulau tersebut berupa hutan pohon rumbia dan kayu galam. Lantaran, banyak warga menebang pohon tersebut, dirinya ikut untuk menjadikan lahan pertanian.

“Sekitar tahun 80-an kami membuka lahan ini sekitar 3 hektar dan kami tanami padi,” urainya.

Diakuinya, sebelum menjadi lahan pertanian kawasan tersebut merupakan tempat berkumpulnya bekantan. Namun, setelah areal pertanian itu luas hewan tersebut sudah pindah ke tempat lain.

 

Sementara itu, Kepala badan lingkungan hidup (BLH) Batola, Hanafi Ali. Ditemui di sela-sela penanaman mangrove di Pulau Kaget dia mengatakan, dari luas Pulau Kaget 65 hektar lebih dari separo kondisinya sudah rusak.

Padahal, keberadaan Pulau Kaget tersebut sudah ditetapkan menteri kehutanan (Menhut) sebagai kawasan konservasi yang keberadaannya harus dilindungi.

“Yang paling banyak menjadi lahan pertanian. Karena awalnya, warga menebang pohon itu untuk keperluan sehari-hari dan setelah lahannya terbuka untuk sawah,” katanya.

Untuk mengembalikan keberadaan mangrove tersebut, pihaknya bersama BLHD Kalsel melakukan penanaman mangrove di pulau tersebut sebanyak seribu pohon.

Disinggung keberadaan bekantan, menurutnya yang masih terlihat di pulau lain yang lokasinya dekat dengan wilayah Tabunganen.

“Masih ada sekitar 70 ekor, tapi tidak di Pulau Kaget sini. Karena pohon rumbianya sudah tidak ada lagi,” tukasnya.

Sangat Rusak

Menurut Kepala BLHD Kalsel Rakhmadi Kurdi, kawasan mangrove di Kalsel sepanjang 1.500 kilometer yang membentang mulai wilayah Tabunganen hingga pesisir Kotabaru, sekitar 500 kilometer kondisinya rusak.

Selain untuk lahan pertanian, juga untuk menjadi pelabuhan khusus (Pelsus) batu bara. Sehingga, pohon-pohon mangrove yang menjadi penangkal ombak sungai tersebut ditebang.

“Tapi juga ada yang ditebang untuk keperluan rumah tangga seperti kursi maupun almari. Tapi kalau akarnya dimanfaatkan warga untuk tutup pohon,” katanya.

Untuk mengembalikan kondisi mangrove tersebut, pihaknya secara bertahap melakukan penanaman lagi. Sejak tahun 2008, pihakna melakukan penanaman mangrove sebanyak 2 ribu pohon dan tahun 2009 sebanyak 2 ribu dan kali ini sebanyak 1 ribu.

“Jika tidak segera dilakukan penanaman, abrasi di daerah ini akan semakin cepat. Karena ombak tidak ada penangkalnya lagi,” katanya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s