BLHD Tinjau Ulang Izin Amdal Sawit

Posted: February 12, 2011 in Berita

– 10 izin Amdal sedang diproses

BANJARMASIN, BPOST-Badan lingkungan hidup daerah (BLHD) Kalsel terus menunjukan “taringnya”. Setelah menggeber pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat pertambangan, sekarang giliran perusahaan sawit. BLHD bakal mengkaji ulang seluruh izin Amdal sawit yang berada di Kalsel.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadi pelanggaran, yang berakibat pada kerusakan lingkungan dan masyarakat sekitar. Karena, jika salah dalam mengelola Amdal maka lingkungan sekitar juga bakal terjadi pencemaran seperti pertambangan.

“Sebelum terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan, makanya semu izin Amdal sawit yang ada akan kita periksa lagi,” kata Kepala BLHD Kalsel, Rakhmadi Kurdi.

Pengkajian ulang tersebut, imbuh dia, sekaligus untuk melakukan pengawasan pelaksaan Amdal oleh masing-masing perusahaan sawit yang beroperasi di beberapa daerah di Kalsel ini.

Karena, jika sudah terjadi permasalahan maka akan sulit untuk melakukan pembenahan. Termasuk memerlukan ongkos yang cukup besar, seperti melakukan ganti rugi kepada masyarakat.

“Sekalian pengawasan, apakah sudah sesuai aturan apa belum pelaksanaan Amdal oleh perusahaan sawit itu,” tukasnya.

Ditanya soal izin Amdal yang dicabut, menurut Rakhmadi di Kalsel belum pernah ada dengan alasan sampai saat ini belum ada perusahaan yang melakukan pelanggaran.

Termasuk juga belum adanya laporan dari masyarakat, terkait dampak dari perusahaan maupun pengelolaan Amdal tersebut. Sehingga, semua perusahaan sawit itu masih berjalan.

Meski begitu, saat ini pihaknya sedang memproses 10 izin Amdal perusahaan sawit. Karena perusahaan tersebut, sedang melakukan perpanjangan izin.

Sehingga pihaknya melalui komisi Amdal, sedang menyeleksi secara ketat persyaratan maupun pemantauan pelaksanaan di lapangan. Dengan harapan, tidak merusak dan menganggu masyarakat sekitar.

“Kalau jumlah perusahaan sawit sebanyak 20 buah, tapi saat ini sebanyak 10 perusahaan sedang diproses izin Amdalnya seperti perusahaan Tasnida yang berada di Batola,” tukasnya.

Mekanisme pengajuan izin Amdal tersebut, perusahaan yang bersangkutan harus melampirkan izin kawasan. Termasuk pinjam pakai kawasan jika di areal kehutanan. Kemudian, dokumen pendukung lainnya dan dilakukan sidang oleh komisi Amdal.

Karena, ada satu perusahaan perkebunan sawit di daerah Kotabaru, power plannya justru berada di kawasan cagar alam. Sehingga tidak bisa ditoleransi lagi. Artinya izin Amdal yang disampaikan tersebut tidak bisa disetujui, karena jelas-jelas melanggar aturan.

“Kalau sudah masuk cagar alam ya harga mati. Tidak bisa diapa-apakan lagi, dari pada menimbulkan masalah” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Walhi Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat meminta agar pemerintah daerah bersikap tegas dan teliti sebelum mengeluarkan izin. Karena jika tidak teliti, akan membuka masalah kerusakan lingkungan baru lagi.

“Pemda harus tegas. Kalau jelas-jelas perusahaan itu nakal dan tidak sesuai prosedur, jangan sampai diberikan izin,” pintanya.

Berdasarkan tata ruang yang sudah diatur dan ditetapkan pemerintah pusat, kawasan HPH seluas 261.966,67 hektar, dengan izin konsesi HTI seluas 383.683,46 hektar.

Untuk perkebunan sawit berskala besar mencapai 360.833 hektar. Jika dijumlahkan, keperuntukan untuk HPH, HTI, perkebunan dan pertambangan mencapai 3.145.649.

Sementara itu, menurut Kepala dinas perkebunan Kalsel Haryono, perkebunan sawit di Kalsel tidak bisa dikembangkan lagi lantaran lahan untuk meningkatkan potensi perkebunan sudah tidak ada lagi.

“Padahal banyak investor yang mengincar untuk pengembangan sawit disini. Tapi lahannya sudah tidak ada lagi,” katanya.

Perkebunan sawit di Kalsel mencapai 292 ribu hektar yang tersebar di berbagai daerah seperti di kabupaten Banjar, Tanah Laut (Tala), Tanahbumbu (Tanbu), Kotabaru, Hulus Sungai Selatan (HSS), Tapin dan Batola.

Jumlah ekspor sawit Kalsel selama dua bulan mengalami peningkatan yang signifikan. Tahun 2009 lalu, ekspor sawit mencapai 579,9 juta kilogram. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan tahun 2008 yang hanya sebesar 120,9 juta kilogram.

Sedangkan hasil ekspor sawit tahun 2009 yang mencapai 579,9 juta kilogram, menghasilkan uang sebesar Rp 373,8 juta dolar atau mengalami kenaikan sebesar 288 persen.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s