Kala Siswa Pengupas Bawang Ikut Upacara

Posted: February 12, 2011 in Sosial

“Tidak Seragam dan Menggunakan Sandal”

BAGI M Zaini, hari pendidikan nasional (Hardiknas) tahun 2010 yang diperingati secara serentak, Senin (35) kemarin sangat istimewa. Begitu juga dengan 54 anak asuhnya di sekolah bawang yang berada di lantai 2 Pasar Lima kota Banjarmasin.

Karena sejak berdiri 18 Agustus 1988, baru tahun ini dirinya bersama anak didik diundang mengikuti upacara tersebut. Padahal, sudah banyak anak di kota ini yang kekurangan biaya bisa diluluskan di sekolahan yang berada di kompleks perbelanjaan tersebut.

Kehadiran para siswa sekolah bawang tersebut menjadi pusat perhatian sluruh pejabat dan unsur Muspida, yang menghadiri upacara Hardiknas di halaman kantor gubernur Kalsel Jalan Jenderal Sudirman.

Karena, para siswa tersebut hanya mengenakan baju dan kaos yang sudah terlihat kumal. Bahkan, mereka hanya menggunakan sandal jepit sambil menenteng tas plastik. Berbeda dengan para peserta upacara lainnya, yang mengenakan seragam dan sepatu yang terlihat bagus.

Bahkan tingkah para siswa-siswi itu juga berbeda dengan yang lain. Saat gubernur Kalsel Rudy Ariffin membacakan sambutan Mendiknas M Nuh, mereka memilih duduk dan jongkok di lapangan sambil bersenda gurau bersama rekannya.

Mariah (8), salah satu siswi SD sekolah bawang tersebut mengaku terkejut ketika diberitahu untuk mengikuti upacara tersebut. Selain malu karena tidak memiliki baju seragam, juga minder jika bertemu dengan siswa sekolah lain.

“Tahunya diajak ke tempatnya pak gubernur saja oleh pak guru, sambil naik angkutan,” katanya polos.

Bahkan, saat tiba di kantor gubernur Kalsel, bocah yang tinggal di Kelayan itu mengaku kagum. Selain melihat bangunan yang megah, juga melihat para siswa lain yang menggunakan seragam dan sepatu bagus.

“Masih sekali ini ulun kesini, ternyata tempatnya bagus sekali. Kami ingin punya seragam seperti mereka,” ujarnya sambil terlihat malu-malu.

Sementara itu, menurut M Zaini selaku pengelola sekolah tersebut, memang selama ini sekolah yang mengakomodir para anak-anak buruh angkut di pasar tersebut belum pernah dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan formal seperti upacara.

Bahkan, selama ini bantuan yang diberikan juga masih berasal dari dinas pendidikan (Diknas) kota Banjarmasin saja untuk keperluan para siswa sebesar Rp 7.500 setiap per hari, sebagai bantuan uang makan.

“Masih dari dinas kota saja yang memberikan bantuan. Padahal sekolah itu sangat membantu bagi anak yang ekonominya lemah, karena tidak dipungut biaya dan justru diberi uang makan,” terangnya.

Saat ini, sekolah yang memiliki 30 siswa sekolah dasar (SD) dan sebanyak 24 siswa SMP itu yang diasuh 6 pengajar. Jam sekolah pun disesuaikan dengan aktifitas mereka sebagai pembantu orangtua dalam mengasi rezeki di pasar. Yakni mulai pukul 08.00 Wita hingga pukul 11.00 Wita.

Dirinya pun berharap agar pemerintah daerah, juga turut memberikan perhatian yang sama. Karena banyak anak-anak baik yang berasal dari kota Banjarmasin maupun kabupaten lain yang kekuranga biaya, sekolah di tempat itu.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s