Lebih Laris di Pinggir Jalan

Posted: February 12, 2011 in Berita

– Pendapatan pedagang Pasar Tunggung menurun

BANJARMASIN, BPOST-Tempat jualan yang nyaman, bukan jaminan dagangan bakal laris. Itulah yang dialami ratusan pedagang Pasar Tungging Banjarmasin.

Pasca relokasi dari kawasan Jalan Belitung ke dekat Pasar Kalindo tersebut, penghasilan para pedagang menurun drastis. Padahal di lokasi baru yang disediakan pemko Banjarmasin tersebut cukup representatif, karena tidak bikin macet dan menganggu pengguna jalan.

Jamilah, salah satu pedagang yang mengeluhkan hal tersebut. Meski sudah pindah 6 bulan lalu sejak November, hingga kini aktifitas jualannya belum stabil. Sehingga, pendapatannya juga belum merangkak naik.

Menurut pedagang pakaian itu, saat ini dirinya hanya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 350 ribu saja per hari. Sebelum pindah ke lokasi tersebut, dirinya mampu mendapatkan uang sekitar Rp 500 ribu bahkan lebih.

“Saya juga bingung, kenapa sampai sekarang jualan kok masih sepi. Padahal tempatnya jauh lebih nyaman dibandingkan dulu,” keluhnya.

Di lokasi Pasar Tungging yang disediakan pemko Banjarmasin tersebut berada di atas lahan seluas 2 hektar dengan menelan biaya Rp 3,8 Miliar, yang letaknya agak menjorok ke dalam. Sehingga tidak menganggu pengguna jalan.

 

Selain itu, tempat jualan tersebut juga disesuaikan dengan jenis barang dagangan yang dijual para pedagang. Sehingga memudahkan warga yang ingin membeli perlengkapan mapun keperluan pribadi tersebut.

Termasuk, lantai tersebut terbuat dari batu batako. Sehingga, meski diguyur hujan tidak membuat becek areal tersebut. Berbeda dengan lokasi dulu, yang berada di pinggir jalan. Selain membuat macet arus lalulintas, juga becek setelah diguyur hujan.

 

Keluhan serupa juga dilontarkan pedagang lainnya, Nurudin. Pria yang jualan aneka boneka dan bantal itu mengaku, pendapatannya tidak mengalami perubahan. Artinya meski lokasi jualannya lebih baik dibandingkan dulu, penghasilannya tidak ada perkembangan.

“Dulu waktu masih di pinggir jalan setiap malam hanya dapat Rp 200 ribu saja. Begitu juga sekarang ini,” cetusnya.

Dia juga mengaku heran. Karena di lokasi yang baru tersebut, tempat jualan lebih baik. Karena, masing-masing pedagang memiliki kios yang sangat bersih dan rapi.

Padahal perputaran uang di lokasi tersebut setiap malamnya mencapai Rp 134 juta. Karena jumlah pedagang di kawasan Pasar Tungging tersebut sebanyak 447 kios, dan dan rata-rata penghasilan para pedagang sekitar Rp 300 ribu.

Sayangnya, tempat tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat dan pedagang. Terbukti, sampai saat ini masih banyak warga yang tetap jualn di pinggir Jalan Belitung Darat tersebut.

Dari pantauan BPost, meski semua pedagang tersebut sudah direlokasi sejak awal November lalu, hingga kini sepanjang Jalan Belitung tersebut masih diwarnai puluhan pedagang baju, boneka, aksesoris maupun perlengkapan rumah tangga seperti ember, gayung dan sikat cuci.

Mereka memanfaatkan halaman rumah warga yang luas untuk berjualan, dengan menggunakan perlengkapan yang sederhana. Empat batang kayu diikat dan diberi terpal plastik sebagai atap untuk menahan guyuran hujan maupun embun malam.

Para pedagang mengaku dengan jualan di tempat itu justru menguntungkan. Selain hanya membayar lampu kepada pemilik halaman, sampai saat ini dagangan mereka juga laris.

“Kalau warga yang buru-buru pasti belinya disini, bukan di asar Tungging. Karena sambil jalan bisa singgah dulu, otomatis kan efisien,” tukasnya.

Tidak Bisa Ditertibkan

Kepala dinas pasar kota Banjarmasin, Sukadani angkat tangan dengan masih banyaknya pedagang yang tetap bercokol di sepanjang jalan tersebut. Dirinya tidak bisa menertibkan lantaran berada di halaman rumah penduduk.

“Mereka jualannya kan di halaman rumah warga. Sehingga itu kewenangan pemilik halaman,” katanya.

Jika para warga tersebut jualan di pinggir jalan, maka pihaknya bersama petugas Satpol PP bakal melakukan penertiban. Karena sepanjang jalan tersebut, bukan kawasan jualan melainkan jalur hijau.

Selain itu, upaya relokasi yang dilakukan pihaknya tersebut merupakan adanya masuk keberatan warga di sepanjang jalan tersebut karena rumah mereka tertutup kios para pedagang.

Selain itu, juga menganggu arus lalulintas. Selain kios para pedagang berada di bahu jalan, para pembeli banyak yang tidak mau parkir kendaraannya. Sehingga tetap berada di pinggir jalan tersebut.

Sehingga, melalui APBD pihaknya mengalokasikan anggara sebesar Rp 3,8 Miliar untuk pembangunan penampungan pasar seluas 2 hektar tersebut dan pembangunan jembatan maupun tembok pagar di sekeliling lhan tersebut.

“Warga di situ resah, karena rumah mereka tertutup kios. Dan hal itu terjadi sudah bertahun-tahun. Makanya, pemko merespon hal itu tanpa mematikan usaha pedagang dengan cara memindah,” urainya.

Meski masih banyak warga yang tetap bertahan di sepanjang jalan tersebut, pihaknya berusaha untuk melakukan pendekatan agar mereka mau jualan di lokasi yang disediakan pemko tersebut.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s