Pendapatan Sektor Tambang Rawan Bocor

Posted: February 12, 2011 in Berita

– Terkait lahirnya Perpres 26 tahun 2010

BANJARMASIN, BPOST-Karut marutnya sistem pertambangan, ternyata diikuti dengan kerawanan terjadinya kebocoran pendapatan dari sektor pertambangan tersebut yang harus diperoleh pemerintah daerah. Tak heran, selama ini pendapatan baik bagi hasil maupun royalti sangat tidak transparan.

Hal itu dikatakan koordinator Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Ridaya Laodengkowe di sela-sela seminar bertajuk mendorong transparansi dan akuntabilitas industri ekstraktif di Kalsel yang digelar di Graha Abdi Persada, Rabu (12/5).

“Selama ini pengelolaan dan pendapatan dari sektor pertambangan tersebut tidak bisa diketahui masyarakat luas. Makanya sangat rawan terjadinya kebocoran,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya antara rentang waktu tahun 2000 hingga 2007, terjadi kebocoran pendapatan dari sektor tambang sebesar Rp 169 Triliun.

Menurutnya, data tersebut diperoleh dengan membandingkan jumlah produksi batu bara dengan harga minyak mentah di Indonesia. ernyata terjadi selisih atau kekurangan biaya pemasukan yang cukup besar.

Selain itu, juga terjadi dugaan kebocoran pendapatan negara dari sektor tambang batu bara sebesar Rp 49 Triliun. Kemudian sektor Migas yang mencapai sebesar Rp 50 Triliun.

“Jangankan pendapatan dari tambang, untuk mendapatkan data tentang perizinan saja sangat susah. Karena, selama ini sistem tersebut sangat tertutup dan tidak bisa dikontrol masyarakat,” urainya.

Oleh karena itu, dirinya langsung menyambut upaya pemerintah yang menerbitkan Perpres nomor 26 tahun 2010, yang mewajibkan semua pemerintah daerah untuk melakukan transparansi terhadap pendapatan dari sektor tambang tersebut.

Hal senada dikatakan Direktur Walhi Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat. Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat pertambangan yang tidak benar, tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima pemerintah daerah selaku penghasil.

Menurutnya, pembagian royalti dari sektor tambang batu bara yang diperoleh Kalsel tahun 2008 lalu sebesar Rp 85 Miliar dengan jumlah produksi emas hitam itu sebesar 78 juta ton.

“Padahal keuntungan yang diperoleh salah satu perusahaan tambang selama setengah tahun mencapai Rp 1,14 Triliun. Sehingga royalti itu tidak ada apa-apanya dengan keuntungan perusahaan dan kerusakan lingkungan,” tegasnya.

Bahkan, yang menyedihkan kehidupan warga yang tinggal di sekitar lokasi tambang tidak ada yang sejahtera. Justru kondisinya sangat memprihatinkan.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s