Sensus Penduduk Sasar Tuna Wisma

Posted: February 12, 2011 in Sosial

“Kejar-kejaran Dengan Petugas Sensus”

UDARA dingin kota Banjarmasin yang menusuk tulang, Minggu (16/5) dinihari, tidak menyurutkan semangat para petugas sensus penduduk (SP) untuk menjalankan tugasnya melakukan pencacahan kepada tuna wisma yang ada di kota seribu sungai.

Dipimpin Kepala BPS Kalsel, Bambang Pramono dan kepala BPS kota Banjarmasin, Rismanto serta Camat Banjarmasin Tengah Hermansyah, sekitar 14 petugas sensus menyusuri lorong-lorong gelap di pusat perbelanjaan Sentra Antasari Banjarmasin.

Menggunakan senter sebagai alat penerangan, para petugas terus menyasar lorong maupun bedakan yang diduga menjadi tempat tinggal para gelandangan tersebut.

Sayangnya, begitu sorot lampu senter petugas menyambar, para tuna wisma langsung kabur. Mereka langsung lari tunggang langgang, meninggalkan tempat tidur mereka yang terbuat dari kardus.

Aksi kejar-kejaran antara tuna wisma dan gelandangan pun tak terhindarkan lagi. Sambil menenteng tas berisi blanko pendataan, para petugas terus mengejar para gelandangan yang larinya semakin kencang.

“Pak, pak tidak usah lari. Kami hanya ingin mendata saja, bukan menangkap pian,” teriak petugas berkali-kali.

Upaya kabur para tunas wisma itu akhirnya terhenti, ketika jalan yang mereka susuri buntu. Sehingga, mereka langsung menyerahkan diri untuk dilakukan pendataan.

Bahkan, petugas pencacah sempat dibuat pusing dengan pengakuan salah seorang gelandangan yang mengaku bernama Santo. Meski kulitnya sudah keriput karena dimakan usia, lelaki asal Banjarmasin itu mengaku berusia 20 tahun.

Saat itu, semua lorong dan kawasan yang diduga menjadi tempat berkumpulnya para tuna wisma disasar petugas. Termasuk, kawasan bekas terminal yang berada di lantai dua pusat perbelanjaan tersebut.

Selain itu, pencatatan kepada tuna wisma juga dilakukan di Pasar Teluk Dalam, Pasar Kalindo, Pasar Sudimampir maupun di Pantai Jodoh yang kerap menjadi pilihan para tuna wisma untuk istirahat malam.

Sekitar 50 tuna wisma berhasil didata petugas. Mereka menggunakan lorong maupun emperan kios di pasar yang sudah ditinggal pulang pemiliknya untuk istirahat malam dengan beralaskan kardus.

Menurut kepala BPS Kalsel, Bambang Pramono, pencacahan kepada tuna wisma itu dilakukan serentak di seluruh Indonesia, dengan mengambil waktu pertengahan pelaksanaan sensus penduduk 2010 ini.

Petugas mengambil waktu malam hari, dengan harapan langsung bisa bertemu dengan para tuna wisma tersebut. Sebab jika siang hari, mereka keliling untuk mencari makan.

“Pencacahan itu kan harus bertemu dengan orangnya dan tidak bisa diulang. Kalau malam hari, dipastikan para tuna wisma itu sedang tidur dan petugas langsung bisa ketemu,” terangnya.

Hingga saat ini, data yang sudah masuk dan berhasil diolah mencapai 2 juta jiwa penduduk Kalsel. Meski begitu, pihaknya tetap akan menunggu hingga berakhirnya masa pencacahan tersebut.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s