Setiap Bulan 60 Suami Pukuli Istri

Posted: February 12, 2011 in Sosial

BANJARMASIN, BPOST-Sungguh mengejutkan. Berdasarkan data unit pelayanan perempuan dan anak (PPA) Dit Reskrim Polda kalsel, setiap bulan sebanyak 60 suami melakukan kekerasan kepada istri maupun anaknya. Jumlah tersebut merupakan data yang berhasil direkam berdasarkan laporan korban.

Hal itu diungkapkan Kanit PPA Dit Reskrim Polda Kalsel, Iptu Amalia Afifi sebelum menjadi nara sumber sosialisasi UU nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Aula Haram Manyarah pemprov Kalsel, Selasa (18/5).

“Kami memperkirakan, jumlah tersebut hanya sebagian saja. Justru banyak warga yang tidak mau melaporkan kekerasan yang dialami tersebut,” katanya.

Menurutnya, meski undang-undang tersebut sudah berlaku selama 6 tahun masih banyak masyarakat yang kurang memahami. Sehingga meski mendapatkan perlakuan kasar dari suami, mereka tetap tidak mau melaporkan.

Sebab, imbuh dia, selama ini yang melaporkan kekerasan tersebut mayoritas yang sudah parah. Selain itu, kekerasan yang dialami tersebut sudah dilakukan berulang-ulang oleh suaminya.

“Ada kalanya warga itu malu dan menganggap biasa saja dipukuli suami. Padahal itu masuk kategori KDRT yang bisa dianjam penjara,” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat adanya kekerasan tersebut. Mengingat, KDRT itu masuk dalam delik aduan. Artinya, petugas bisa bertindak setelah menerima laporan dari korban dan dipastikan dengan hasil visum.

“Ada dua pelaku KDRT yang saat ini sedang mendekam di tahanan untuk menunggu proses hukum. Artinya, jika ada laporan dari korban petugas serius dalam memberikan penanganan,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Ketua lembaga konsultasi dan bantuan hukum untuk wanita dan keluarga, Yurliani. Menurut dosen Fakultas Hukum Unlam itu, kesadaran masyarakat untuk memahami peraturan tersebut masih rendah.

Ditanya penyebab KDRT tersebut, menurutnya lebih banyak disebabkan persoalan ekonomi. Pasangan suami istri yang belum siap secara matang perekonomiannya, memaksakan diri untuk menikah.

“Sehingga begitu ada goncangan, istri yang menjadi sasaran. Anehnya, para istri masih minim pemahamannya mengenai kasus itu. Sehingga meski diberi pendampingan mereka lebih memilih mendiamkan saja,” terangnya.

Kekerasan Anak

Tren perkembangan kasus kekerasan dalam rumah tangga khususnya kepada istri saat ini sudah mengalami penurunan. Justru yang mengkhawatirkan adalah kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh ayahnya.

Meksi Amalia tidak menyebutkan angka secara rinci, menurutnya hampir setiap bulan ada kasus tersebut yang masuk ke Kepolisian. Apalagi, kekerasan kepada anak tersebut merupakan tindak pidana biasa yang langsung bisa ditangani polisi.

“Kalau kekerasan pada anak bukan delik aduan. Sehingga jika petugas mendengar maupun melihat langsung kejadian itu, langsung bisa melakkan penangkapan,” urainya.

Seperti yang dilakukan jajaran eberapa hari lalu, yang berhasil mengangkap pelaku pemerkosaan anak di bawah umur yang dilakukan ayahnya sendiri.

Untuk menekan kejadian tersebut, pihaknya gencar memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat tentang kasus kekerasan itu. Denan harapan, para kaum adam juga jera dengan ancaman hukuman jika melakukan kekerasan tersebut.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s