Siswa Sekolah Bawang Ikut UASBN

Posted: February 12, 2011 in Sosial

“Bingung, Tidak Seperti Yang Diajarkan”

RAUT wajah Mohammad Rifai Hamdi (15), terlihat tegang. Sorot kedua bola mata siswa sekolah bawang itu, hanya tertuju pada lembaran soal ujian akhir sekolah berstandart nasional (UASBN) yang berada di meja.

Sesekali, bocah yang tinggal di Kelayan itu tangan kirinya terlihat menggaruk-garuk kepalanya. Dia nampak serius memikirkan jawaban atas soal yang menjadi penentu kelulusan tersebut.

Pemandangan serupa juga terlihat dari balik wajah tiga rekannya, Mohammad Aminudin, Mohammad Hambali dan Fredi Siswanto yang duduk berdampingan di salah satu ruang ujian di SDN Mawar II Banjarmasin itu.

Keempat “Laskar Pelangi” itu sedang konsentrasi memikirkan jawaban soal Bahasa Indonesia yang menjadi pembuka pelaksanaan UASBN tersebut.

Mengenakan baju batik warna putih yang masih terlihat baru, dia duduk layaknya peserta UASBN lainnya. Namun ada pemandangan lain, yakni celana yang mereka kenakan tidak sepadan dengan bajunya yang masih baru.

Keempat siswa sekolah bawang itu, hanya mengenakan celana seadanya yang sudah terlihat lusuh dan kumal. Bahkan, mereka juga hanya mengenakan sandal jepit saja. Mereka juga hanya menenteng tas plastik yang dilapisi koran untuk mengamankan buku.

Berbeda dengan siswa lainnya, yang menganakan seragam dan celana yang sepadan serta sepatu yang masih bagus. Termasuk memanggul tas, untuk menampung buku maupun perlengkapa pribadi.

“Saya setelah ujian ini langsung ke pasar membantu mama mengupas bawang,” katanya sambil bergegas masuk ruangan.

Tidak ketinggalan koran lusuh yang dibawanya sejak dari rumah, juga ikut dibawa masuk. Dia takut, koran yang bakal menjadi alas duduk saat membersihkan bawang itu hilang disambar angin.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 10.00 Wita, dia langsung bergegas meninggalkan ruangan dan ingin buru-buru ke pasar membantu orangtuanya yang berprofesi sebagai pengupas bawang.

Saat ditanya soal ujian yang dihadapinya, bocah yang bercita-cita ingin menjadi polisi itu mengaku kesulitan. Menurutnya, antara soal yang dikerjakan tidak sama dengan pelajaran yang disampaikan saat di sekolah.

“Soalnya sulit sekali, tidak sama dengan pelajaran yang disampaikan bapak (guru) pas di sekolahan,” katanya polos.

Setelah itu, mereka langsung bergegas sambil menaiki sepeda onthel menuju ke pasar untuk membantu orangtua mereka yang bekerja di kawasan Pasar Lima sebagai buruh tersebut.

Sementara itu, menurut Kepala sekolah bawang Mohamad Zaini, sekolah yang dipimpinnya itu lebih mengutamakan siswanya bisa membaca, menulis dan mengerti sopan santun saja.

Meskipun dengan segala keterbatasan fasilitas dan sarana prasarana, pelajaran yang disampaikan mengacu pada kurikulum yang sudah ditetapkan dinas pendidikan nasional.

“Kami mengutamakan anak itu bisa membaca, menulis dan mengerti sopan santun. Tapi kalau pelajaran ya tetap disampaikan seperti sekolah biasanya,” terangnya.

Jam belajar pun hanya berlangsung berkisar 2 hingga 3 jam saja, yang dimulai pukul 08.00 Wita. Karena jika terlalu siang, mereka tidak bisa membantu orangtua di pasar.

Secara umum pelaksanaan UASBN di kota Banjarmasin berlangsung lancar. Petugas Kepolisian dari Poltabes Banjarmasin, turut memantau pelaksanaan ujian tersebut.

Menurut Kepala dinas pendidikan kota Banjarmasin, Nor Ipansyah, ujian kali ini diikuti sebanyak 10.192 siswa SD dan MI yang ada di kota ini.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s