Warga Lebih Senang Menggunakan Jamban

Posted: February 12, 2011 in Budaya

– Indonesia rangking 3 negara kumuh

BANJARMASIN, BPOST-Rangking 3 yang menempatkan Indonesia sebagai negara kumuh di dunia yang salah satu indikatornya penggunaan jamban, tidak asing bagi masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin. Karena, keberadaan jamban tersebut sangat mudah dijumpai di kota seribu sungai ini.

Seperti yang terlihat di bantaran Sungai Barito maupun Sungai Martapura. Tempat buang air besar dan kecil yang bercampur dengan tempat mandi itu, berjajar di sepanjang bantaran tersebut. Seperti yang nampak di kawasan Alalak, Kuin maupun Kelayan.

Selain itu di kawasan Pekapuran. Tempat buang air besar warga berdiri di sepanjang sungai tersebut. Sehingga, sungai itu tidak bisa lagi dilintasi kelotok masyarakat karena dimanfaatkan untuk pembuatan jamban tersebut.

Tak ayal, air pencemaran yang terjadi di sungai tersebut cukup tinggi. Khususnya pencemaran bakteri ekoli yang dihasilkan dari pembuangan kotoran manusia tersebut.

“Sudah bertahun-tahun dilakukan pengujian air, pencemaran ekoli yang masih menjadi juara. Karena sampai saat ini warga masih terbiasa buang air besar di sungai,” terang Kepala BLHD Kalsel, Rakhmadi Kurdi.

Selain ekoli yang tinggi, air di sungai tersebut juga mengandung logam berat seperti mercury yang sudah melebihi baku mutu yakni sebesar 0,4855. Sedangkan standrt normal hanya 0,001.

Sayangnya, pencemaran tersebut dicueki masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tersebut. Hal itu terbukti, hingga kini masyarakat masih memanfaatkan aliran tersebut untuk keperluan hidup sehari-hari seperti gosok gigi, mencuci baju, maupun mandi.

“Kami sudah terbiasa sejak kecil mandi dan gosok gigi di sungai ini. Buktinya juga tidak sakit perut,” ujar Sidik, salah seorang warga Alalak.

Jamban Terapung

Tingkat pencemaran dan kekumuhan tersebut, juga diakui Kepala dinas pekerjaan umum (PU) kota Banjarmasin, Fajar Desira. Saat dihubungi BPost via ponsel dia mengatakan, sistem buang air besar, kecil yang bercampur dengan mencuci dan mandi tersebut masih menjadi bagian pola hup masyarakat Banjarmasin khususnya yang tinggal di bantaran sungai.

Secara perlahan pihaknya mulai melakukan pemahaman kepada masyarakat, dengan membuat jamban terapung. Artinya, kebiasaan buang air di jamban itu tetap dilaksanakan namun disertai dengan pengolahan limbah. Sehingga kotoran tidak langsung masuk ke sungai.

“Masyarakat masih terbiasa dengan pola jamban, kalau dipaksa harus ganti agak susah. Makanya kami sedang menyusun pola jamban terapung yang dilengkapi dengan pengolahan limbah biar tidak menimbulkan pencemaran,” terangnya.

Selain itu, imbuh Fajar, yang sudah terlaksana selama 4 tahun terakhir ini adalah pembuatan MCK plus dan MCK komunal yang tersebar di beberapa wilayah yang dianggap kumuh seperti di Karang Mekar, Kelayan maupun Teluk Tiram ujung.

Dengan MCK plus tersebut, tingkat kebersihan lingkungan terjaga. Karena kotoran sebelum dibuang ke sungai, melalui proses pengolahan terlebih dahulu yang dipusatkan di salah satu wilayah.

“Dengan begitu, limbah yang dibuang ke sungai tersebut sudah sesuai standart baku mutu. Sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan aman jika ada masyarakat yang memanfaatkan kawasan tersebut,” tegasnya.

Bahkan proses pembangunan MCK plus dan komunal tersebut, sesuai dengan usulan masyarakat. Karena jika dipaksa dikhawatirkan tidak digunakan masyarakat sehingga terkesan sia-sia.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s