12 Pengemis Jalani sidang Tipiring

Posted: April 14, 2011 in Sosial

12 Pengemis Jalani sidang Tipiring

“Divonis 7 Hari Langsung Protes”

RAUT tegang menghiasi wajah 12 orang pengemis yang hadir dalam sidang tindak pidana ringan (Tipiring) di PN Banjarmasin, Rabu (9/2) siang. Para pengemis yang berhasil diamankan jajaran Polsekta Banjarmasin Terngah dalam operasi Pekat itu, dengan serempat duduk di kursi pesakitan ruang sidang candra.

Beragam polah tingkah para pengemis, seperti duduk dengan kaki diangkat ke kursi maupun bersendagurau dengan temannya, menghiasi acara persidangan yang dipimpin hakim, Suswati tersebut.

Tak ayal, hakim beberapa kali harus menegur para pengemis yang berhasil diamankan petugas tersebut, agar duduk dengan sopan dan tidak bergurau sendiri.

“Ini bukan pasar, tapi ini sidang. Tolong kalian harus duduk yang sopan dan menghormati jalannya persidangan,” hardik Suswati.

Persidangan pun berlangsung cepat. Setelah mendengarkan keterangan dua saksi dari Polsekta Banjarmasin tengah, 12 pengemis beragam usia itu langsung dijatuhi vonis 7 hari mendekam di panti rehabilitasi dinas sosial kota Banjarmasin di Jalan Lingkar Selatan Basirih.

Karena, mereka terbukti secara sah melanggar peraturan daerah (Perda) kota Banjarmasin nomor 3 tahun 2010 tentang penanganan Gepeng, Anjal serta WTS.

Selain itu, para pengemis tersebut juga harus membayar beban perkara sebesar Rp 1000. Sontak saja vonis tersebut membuat para pengemis geram. Mereka langsung melakukan protes kepada hakim.

Yanti (31), salah satunya. Dengan berdiri dan sambil memegangi longdress (Daster), dia langsung protes dengan keputusan hakim tersebut dengan alasan sedang menyusui anak yang masih berumur 3 bulan.

“Kalau saya ditahan, bagaimana nasib anak saya bu. Terus siapa yang menyusui dia,” protesnya.

Begitu juga dengan pengemis lainnya. Mereka mengancam bakal memboyong anggota keluarganya ke panti, jika tidak dibebaskan. Mereka berdalih, bukan mengemis. Melainkan mencari sedekah dari warga yang mau menyisihkan sebagian harta.

Mendengar protes tersebut, Suswati berusaha menenangkan para pengemis. Menurutnya, mereka tidak dimasukan dalam sel penjara melainkan hanya tinggal di panti rehabilitasi untuk mendapatkan bimbingan.

“Sebelumnya juga sama, harus menjalani hidup di panti. Kalian tidak perlu takut,” katanya sambil mengetukan palu sebagai tanda sidang ditutup.

Kemudian, mereka langsung digiring petugas Kepolisian dan Dinsos menuju ruang tunggu tahanan di lantai I PN Banjarmasin untuk menunggu penerimaan salinan keputusan tersebut.

Masih Kurang

Yanti (31), bukanlah orang yang asing di kalangan pengemis. Begitu juga di kalangan dinas sosial. Pasalnya, dia kerap terjaring razia yang dilakukan petugas.

Bahkan, dia pernah beberapa kali mendapatkan bantuan dari Dinsos kota Banjarmasin maupun provinsi agar meninggalkan profesi mengemis. Sayangnya, harapan itu tidak membuahkan hasil.

“Sekitar 3 bulan lalu kami bantu beras beberapa, katanya mau jualan. Ternyata tetap saja meminta-minta dan tertangkap terus,” ujar Kasi rehabilitasi Dinsos kota Banjarmasin, Ibnu Sabil.

Begitu juga dengan Hana. Bahkan suaminya pernah diberi peralatan agar menjalankan usaha. Namun, hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga yang bersangkutan tetap saja melaksanakan kegiatannya itu meski harus kejar-kejaran dengan petugas.

Menurut Yanti, bantuan pemerintah tersebut masih kurang. Bahkan lebih mudah minta sedekah di jalan, dibandingkan harus menjalankan usaha sendiri.

“Masih kurang. Dan kalau meminta sedekah ini kan tidak ada resikonya, paling dikejar satpol PP,” tukasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s