Abuan Halim Didenda Rp 50 Juta

Posted: April 15, 2011 in Berita

– Terkait putusan sidang gula rafinasi

BANJARMASIN-Sidang lanjutan kasus pengiriman gula rafinasi yang tidak dilengkapi dokumen, kembali digelar di Pengadilan Negeri Banjarmasin dengan agenda pembacaan putusan, Selasa (22/2) siang.

Sidang yang dipimpin ketua majelis hakim, Amril SH itu berlangsung sekitar 30 menit yang dimulai sejak pukul 13.08 Wita. Secara bergantian, majelis hakim yang terdiri Amril, Suprapti dan Rahayu menjatuhkan vonis denda Rp 50 juta atau kurungan selama 3 bulan.

Sedangkan 3.750 ton gula rafinasi yang masih tersimpan dalam 150 kontainer, yang berada di interchange terminal peti kemas Pelabuhan Trisakti bakal dikembalikan kepada pemilik melalui Dirut PT Makasar Te’ne.

Vonis tersebut lebih tinggi dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut denda sebesar Rp 1 juta, dan hukuman penjara selama 2 bulan dengan masa percobaan empat bulan.

Selama sidang berlangsung, Dirut PT Makasar Te’ne Abuan Halim nampak tegang. Pria berkacamata minus yang duduk di kursi terdakwa itu, dengan serius mendengarkan majelis hakim yang bergantian membacakan putusan amar putusan.

Sesekali, dia yang mengenakan kemeja lengan panjang warna putih itu terlihat menengadahkan kepala sembari kembali menunduk. Kedua telapak tangannya terus menggenggam erat seperti orang yang sedang berdoa.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti bersalah karena mengirimkan gula tanpa dilengkapi dokumen berupa SPP GRAP, seperti yang tertuang dalam Kepmen Perindag nomor 334 tahun 2004 yang merupakan penjabaran dari Kepres nomor 57 tahun 2004 menyatakan, bahwa gula termasuk barang kebutuhan masyarakat yang dalam pengawasan.

Apalagi dalam keterangan 10 orang saksi yang dihadirkan JPU ke persidangan, menyatakan bahwa pengiriman gula tersebut harus dilengkapi dokumen, sebagai persyaratan utama sebelum mengirimkan.

“Terdakwa secara sah terbukti melanggar peraturan perundang-undangan atau ketentuan pengiriman barang antar pula,” terang Amril.

Begitu sidang selesai, terdakwa dan kuasa hukumnya, Basofarudin langsung menerima putusan majelis hakim. Bahkan, dia langsung menyetuji putusan dengan membubuhkan tanda tangan kepada panitera pengganti.

Ditemui usai mengikuti persidangan, Abuan Halim mengatakan putusan hakim tersebut dirasakan sudah adil. Apalagi, apa yang dilakukannya semata-mata untuk membantu keperluan hidup masyarakat.

“Kami nilai sudah sesuai dan adil, makanya kami menerima putusan tersebut,” katanya singkat saat sambil meninggalkan ruang sidang.

 Jaksa Pikir-pikir

Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU) Asep SH yang menangani kasus tersebut meyatakan pikir-pikir dulu untuk menanggapi hasil putusan majelis hakim tersebut.

Dia akan memanfaatkan waktu 7 hari untuk berkonsultasi kepada pimpinan, menyikapi vonis yang dijatuhkan majelis hakim tersebut apakah sudah sesuai atau masih kurang.

“Majelis, kami mohon waktu untuk memikirkan putusan itu tadi,” ujarnya.

Dirinya mengaku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Karena harus berkonsultasi dengan pimpinan menyikapi putusan majelis hakim tersebut. Baik untuk melakukan upaya banding maupun kasasi.

Bahkan dia juga belum tahu apa upaya hukum yang bakal ditempuhnya. Karena belum melakukan konsultasi dengan pimpinan menyikapi persoalan tersebut.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s