“Kartunya Hanya Untuk Menukar Salep”

Posted: April 15, 2011 in Sosial

Derita Bocah Gizi Buruk  

TUBUH Imam Ridoi (7), tergolek lemah di lantai rumahnya. Kepalanya yang nampak besar, beralasakan batal yang sudah nampak kumal dan ditemani kipas angin berukuran mini untuk mengusir rasa panas yang terus mendera siang itu.

Sesekali, bocah yang diduga menderita gizi buruk itu hanya bisa mengerakkan kepalanya saja. Untuk alih posisi telentang saja, harus dibantu. Lantaran tak kuasa untuk bergerak sedikitpun.

Neneknya, Rohanah menemani sambil mencuci baju milik tetangga yang menjadi bagian dari profesinya. Dia pun mendekat jika cucunya memanggil minta bantuan, seperti mengambilkan air maupun mengalihkan posisi tidurnya.

“Kalau tidak dibantu, dia tidak bisa apa-apa. Kejadian seperti ini sejak dia berusia dua tahun,” kenangnya.

Beragam upaya dilakukan agar cucunya bisa tumbuh dan berkembang seperti bocah lainnya. Seperti membawa ke rumah sakit hingga ke dokter ahli kulit. Namun hingga kini belum membuahkan hasil, bahkan kondisi cucunya makin tragis.

bahkan kedua orangtuanya, Saleh dan Saniah yang berprofesi sebagai pedagang sayur rela menggadaikan rumah untuk biaya pengobatan sang buah hati.

“Jangankan modal dagang, rumah saja sempat digadaikan untuk biaya pengobatan,” timpal Saniah.

Disinggung pelayanan jaminan kesehatan dari pemerintah seperti Jamkesmas, Saniah mengaku belum mendapatkan. Namun beberapa waktu lalu, dirinya mendapatkan kartu dari puskesmas.

Dengan modal kartu tersebut, dirinya bisa mendapatkan obat seperti salep untuk mengurangi rasa gatal yang menyiksa tubuh Imam Ridoi. Namun jika stok obat itu habis, maka dirinya harus menunggu atau terpaksa membeli ke toko obat lain.

Selain obat, buah hatinya juga pernah mendapatkan makanan berupa roti yang diantarkan petugas puskesmas sambil melakukan pengeceka secara rutin terhadap buah hatinya.

“Kami belum terdaftar di Jamkesmas, cuma diberi kartu saja dari puskesmas untuk mengambil salep. Kalau pas obatnya habis, harus nunggu atau beli sendiri,” tukasnya.

Adanya rencana agar buah hatinya menjalani opname di RSUD Ulin Banjarmasin, dirinya baru mengetahuinya. Namun Saniah berharap, agar buah hatinya menjalani perawatan atau pengobatan jalan saja.

Dia beralasan, jika harus opname bingung yang menunggunya. Karena dirinya setiap hari harus jualan sayur di pasar untuk mencukupi keperluan hidup keluarganya sehari-hari.

“Kalau kami menunggu di rumah sakit, terus siapa yang mencari uang untuk makan sehari-hari,” tandasnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s